MINGGU IX. MUSIK DAN JANIN


MINGGU IX

MUSIK DAN JANIN

Pengaruh Musik Terhadap Manusia

(ditulis oleh Susan Grace Widiono, Sarjana Musik Gereja.)

Sungguh suatu hal yang unik bahwa ternyata musik itu menyentuh seluruh segi kehidupan manusia, mari kita telaah.

Sebuah kisah nyata:

The Miracle of a Brother’s Song

http://www.truthorfiction.com/rumors/b/brotherssong.htm#.U38GYNKSxl8

:: Bocah ini Menyanyi untuk Nyawa Sang Adik ::

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!

Mami, … aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap.
Mami, … aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
Mami, … aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta
Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!

Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring

“… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …”

Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, … terus Michael! teruskan sayang! … bisik ibunya …

The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands..

dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur

….I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same …

Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang. Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang dan damai … lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri. Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang.

Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Tuhan yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Nama nenek bayi itu adalah: Karin Simmons Knapp

Dia mengatakan bahwa cerita beredar di internet tampaknya telah diambil dari buku khotbah yang diterbitkan oleh Konferensi Holston dari United Methodist Church di East Tennessee .

nama rumah sakitnya: Rumah Sakit St Mary di Knoxville, peristiwa ini terjadi pada tahun 1992

Bayi itu bernama Marlee dan hingga Agustus 2008 , dia adalah seorang siswa SMA berusia 16 tahun yang menggambarkan dirinya sebagai ” sama seperti gadis remaja lainnya . ” Dia mengatakan bahwa dia bernyanyi dalam paduan suara gereja nya serta paduan suara sekolah dan merupakan pelatih atletik mahasiswa untuk departemen atletik SMA -nya .

Marlee mengatakan bahwa bakatnya adalah bernyanyi dan bahwa dia senang bahwa apa yang terjadi ketika ia dilahirkan tidak menjauhkan dirinya dari mimpinya itu .

http://www.truthorfiction.com/images/marlee.jpg

Dibawah ini, ada dua kolom, tugas kita adalah memberi panah untuk menjodohkan dari unsur musik tersebut memberi pengaruh pada  bagian-bagian mana saja dari manusia?

Unsur manusiaManusia adalah mahluk rohani memiliki jiwa dan tinggal di dalam tubuhTubuhJiwa         – pikiran-emosi-kehendakRoh unsur MusikMusik memiliki unsur-unsur dasar yaitu:Melodi susunan nada-nada yang dapat dirasakan sebagai suatu kesatuanRitme tempat yang relative dan panjang-pendeknya ada dan istirahat (diam) dalam sebuah lagu Harmoni dimensi vertical; (ukuran-ukuran ) di dalam musik. Dua nada atau lebih yang terjadi pada saat yang sama adalah apa yang disebut dengan ‘harmoni’Timbre/warna suara adalah sifat bunyi yang berbeda, yang menyangkut pitch(tinggi rendah nada), volume (keras lembut suara) dan durasi (panjang-pendek suara)Form/bentukadalah elemen-elemen dari sebuah lagu (melodi, ritme dan harmoni)yang mana diulang dan atau memunculkan bentuk baruTangga nada adalah susunan nada-nada yang mempunyai pola jarak tertentu yang mana nada-nada tersebut dipakai dalam menyususn sebuah lagu.Syair adalah kata-kata yang mengisi sebuah lagu, menjadi sebuah alunan nada yang bermakna. Biasanya pengarang lagu yang baik, akan menyelaraskan isi syair dengan semua unsure musik lainnya seperti melody, harmony , ritme, tempo, dll

Jawabannya adalah

Melody mempengaruhi : pikiran, emosi, kehendak, tubuh. (buatlah garis anak panah yang menghubungkannya)

Contoh: melody yang mendayu-dayu membuat kita sedih, sebuah melody akan langsung mengingatkan pikiran kita akan syair sebuah lagu, walau pada melody itu tidak harus disertakan penyanyi/ instrumental. Melody yang riang akan membawa kita juga bersemangat bekerja/melakukan aktifitas. Melody juga turut membuat tubuh kita bergoyang, misalnya kaki kita, dll. Dan melody yang minor dan mendayu membuat tubuh kita cenderung mengantuk.

Ritme mempengaruhi: tubuh, emosi, kehendak

Ritme jelas mempengaruhi tubuh kita, ritmelah yang membuat tarian lagu Dangdut sangat berbeda dengan tarian Cha-cha. Ritme cepat cenderung membuat kita bersemangat, sebaliknya ritme lambat sangat cocok menjadi lagu penghantar tidur (mempengaruhi kehendak kita)

Harmoni: mempengaruhi tubuh, pikiran, emosi, kehendak.

Contoh : akord minor cenderung menghasilkan emosi sedih dan koma, sedang accord mayor cenderung menghasilkan emosi selesai, titik, nyaman dan tuntas, accord diminished cenderung menimbulkan rasa takut dan seram/mengerikan, dll

Timbre/ warna suara mempengaruhi pikiran, emosi, dan kehendak

Contoh : suasana yg ditimbulkan oleh terompet jelas beda dengan suasana yang ditimbulkan oleh gitar. Itulah sebabnya jenis musik yang berbeda pun membutuhkan paduan pilihan alat musik yang berbeda pula, misalnya alat musik biola digunakan di keroncong, tetapi tidak digunakan di gamelan.

Anda bisa mulai menjawab apa hubungan tangga nada dan bentuk musik terhadap unsure manusia

Nah sekarang kita bahas syair.

Apa yang membedakan musik duniawi dan musik surgawi? Yang membedakan adalah syair. Kalau semua unsure musik lainnya mempengaruhi tubuh dan jiwa manusia, hanya unsure syair saja yang menembus sampai ke roh manusia

Itulah sebabnya, lagu-lagu yang kita baca di Mazmur, nyanyian  Musa, nyanyian Debora, nyanyian Hana, nyanyian Maria, serta nyanyian Zakaria, tidak kita temui dalam semua unsure musik lainnya melainkan hanya syairnya saja. Mengapa? Karna syair berpengaruh sampai ke roh manusia. Sedang melody, ritme, akord, dll bisa diaransement ulang. Ada Maz 133 yang kita aransement dengan model irama dangdut yang tidak dikenal oleh Daud pada zamannya. Coba bayangkan kalau misalnya Tuhan memaksakan pada kita , bahwa kita harus mengikuti musik Israel kuno persis seperti di zaman Daud….waaaauuuu….jenis musik tidak akan sekaya musik gereja zaman sekarang. Tetapi masalah roh dari musik kristiani haruslah tetap diinspirasikan dari nilai-nilai yang ada di Alkitab.

Dalam Alkitab diceritakan bagaimana Saul ditenangkan oleh Musik yang dimainkan oleh Daud, ternyata terapi musik sudah dikenal Alkitab jauh sebelum adanya penemuan-penemuan para ilmuan.

Dan lihatlah bagaimana Si janin Yohanes Pembabtis sudah mendengar sebuah nyanyian oleh bibi Maria sejak dalam kandungan Elisabeth, di mana dalam nyanyian Maria mengandung syair yang berisi VISI dan MISSI lahirnya Juruslamat Luk 1: 39-56, terutama di ayat 54-56. Musik vocal dari Maria inilah yang menginspirasikan si janin Yohanes Pembatis menjadi perintis jalan bagi Yesus. (hal ini dapat dibuktikan secara ilmiah bawa janin ternyata sudah memiliki long term memory/ memory jangka panjang yang kelak sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan)

Apa yang menjadi kunci musik kecapi Daud? (Pengurapan dari Tuhan) dan apa yang menjadi kunci musik nyanyian vocal Maria? (syair yang berisi penggenapan nubuatan nabi-nabi akan datangnya Mesias)

Baik musik instrumental maupun vocal yang bersyair, sebaiknya Anda pilih lagu rohani, dimana para musisi ada dalam terang Roh Kudus.

Pengaruh Musik Terhadap Janin

Berikut akan saya beri banyak kutipan dari Internet/dari berbagai sumber  mengenai hasil-hasil penelitian mengenai pengaruh Musik terhadap Janin.

Namun sebagaimana saya bahas di atas tadi bahwa syair –lah yang mempengaruhi mulai dari Tubuh, Jiwa (pikiran, emosi, kehendak) bahkan sampai ke area roh, maka pilihan terbaik untuk janin kita adalah MUSIK ROHANI, yang bahkan melebihi musik klasik instrumental. Semakin kaya jenis musik rohani yang kita dengar, dengan syair yang alkitabiah, misal:

Lagu pop rohani ( Frangky Sihombing)

Lagu pop rock rohani ( GMB)

Lagu anak-anak rohani ( Kevin dan Karin)

Lagu pop mandarin rohani

Lagu Pop Bahasa Inggris ( Don Moon)

Instrumental rohani ( Saxophone oleh Embong Raharjo)

Musik Klasik rohani misal album Messiah.

Dll

KUTIPAN INTERNET

Pendengaran Janin

Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan berlangsung sangat pesat. Telinga misalnya, mulai terbentuk pada minggu ke-3 kehamilan dan terbentuk sempurna sekitar 21 minggu kemudian.

Karena telah memiliki struktur seperti layaknya telinga normal, maka semestinya telinga janin usia 24 minggu tersebut sudah dapat mendengar. Pernyataan ini telah diuji oleh para ahli. Mereka menemukan bahwa janin telah dapat mendengar secara aktif saat telinga telah terbentuk sempurna. Bahkan, beberapa ahli lain menyatakan bahwa di usia 16 minggu, janin sudah dapat mendengar suara dari alat periksa USG (ultrasonografi).

Beberapa bukti lain bahwa janin memang benar-benar mendengar adalah :

  • Detak jantung janin melambat ketika ibunya berbicara. Hal ini memberikan kesan bahwa janin mendengar dan mengenali suara ibunya (William Filer, Ph.D, ColumbiaUniversity).
  • Janin dapat membedakan suara ibunya dengan suara orang lain (Queens University, Ontario).
  • Janin dapat mendengar bunyi-bunyian. Saat diperdengarkan bunyi-bunyian, bayi, yang dipantau dari USG, akan mendekati sumber bunyi-bunyian tersebut (Dr. Barbara Kisilevsky, Queen’s School of Nursing).

Apakah janin hanya sekedar mendengar? Ternyata tidak. Janin akan merekam apa yang ia dengar, seperti halnya bayi atau kita orang dewasa merekam segala macam input panca indera, walaupun tanpa kita sadari.

Sekelompok ilmuwan dari Inggris memutarkan jenis musik tertentu pada janin usia 20 minggu. Kemudian, 2-3 minggu setelah lahir, mereka menguji respon bayi tersebut. Hasilnya, bayi mampu mengingat jenis musik yang pernah diperdengarkan dan menjadi tenang ketika musik tersebut di putar kembali. Hal ini merupakan bukti bahwa pada janin telah berkembang ingatan jangka panjang (long-term memory).

Kita semua mungkin sudah faham dengan pentingnya ingatan jangka panjang ini. Walaupun tidak kita sadari, semua ingatan tersebut berperan dalam proses pengambilan keputusan (sebagai bahan acuan), pada fase kehidupan selanjutnya.

Jadi, sebagai orang tua, sudah semestinyalah kita memperdengarkan hal-hal yang positif pada anak kita. Misalnya dengan rajin membaca Alkitab dengan bersuara, memutarkan musik klasik, musik rohani, atau bertutur kata yang baik dengan pasangan, bahkan bercakap-cakap dengan bayi yang masih ada dalam kandungan.

Memperdengarkan musik kepada janin akan merangsang peningkatan jumlah sel-sel otaknya. Setelah lahir, rangsangan musik dapat memicu percabangan sel-sel otaknya, melatih konsentrasi, dan mengasah daya nalarnya.

Mulai usia 10 minggu, janin sudah bisa mendengar suara-suara dari tubuh ibunya, seperti detak jantung, desir aliran darah, dan bahkan belaian pada perut ibu. Selanjutnya, sekitar usia 16 minggu, janin mulai bisa mendengar suara-suara dari luar tubuh ibu.

Anda bisa membuktikannya dengan mengajak janin bicara ataupun memperdengarkan musik jenis apa saja. Sebagai reaksi, ia akan bergerak-gerak yang menandakan otaknya dapat menerima rangsangan dari luar. Hal ini tentu saja membuat ibu bahagia karena itulah tanda kehidupan di dalam rahimnya berjalan baik, dan bayi kecilnya kini sudah bisa diajak “berkomunikasi”.

Selain suara ibu, ayah, atau kakak si bayi, musik adalah bentuk rangsangan yang paling disarankan untuk memicu pertumbuhan sel otak janin. Seluruh anggota keluarga dapat menyanyi bersama dalam Ibadah Keluarga  atau rajin-rajinlah ibu memperdengarkan musik bagi janinnya. Tentu saja, pilih lagu dan musik yang bernada riang serta menenangkan, karena nuansa ini mampu menciptakan emosi yang seimbang, baik bagi janin maupun ibu.

“Wanita hamil yang tidak stres dan tenang, tentu detak jantungnya akan lebih teratur. Keteraturan irama ini akan menenangkan bayi dalam kandungannya, yang bahkan juga bermanfaat saat persalinan,” kata Dra. Louise M. M. Psi, dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, yang menekuni terapi musik bagi ibu hamil dan anak-anak.

KLASIK TERBUKTI EFEKTIF

Menurutnya, apapun jenis musik itu, selama berirama tenang dan mengalun lembut, pasti akan memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak. Jadi, oke saja kalau ibu pilih mendengarkan musik jazz, pop, atau tradisional selama hamil. “Hanya saja, musik klasiklah yang sudah diteliti secara ilmiah dan terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak. Sedangkan untuk jenis musik lainnya belum pernah.”

Gubahan musik klasik ini, bila rajin diperdengarkan pada janin, akan memberikan efek keseimbangan emosi dan ketenangan. Dengan demikian, setelah lahir ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak cengeng dan mudah berkonsentrasi. Dengan modal ini, kemampuan bicaranya akan ikut terpacu, disusul kemampuan bersosialisasinya yang muncul lebih cepat.

Dengan kemampuan berkonsentrasi yang tinggi, anak juga lebih mudah menyerap informasi yang didapat dari lingkungan. “Nah, semakin banyak informasi yang dimilikinya, tentu semakin cerdas pula anak tersebut. Ini karena musik klasik bisa merangsang perkembangan otak anak, terutama yang berkaitan dengan daya penalaran, logika, dan kemampuan matematisnya.”

Di usia sekolah, kemampuan berkonsentrasi ini tentu sangat berperan dalam membentuk prestasi, karena “Anak akan lebih mudah belajar,” papar Louise. Seperti kita ketahui, keluhan yang paling banyak disampaikan orang tua mengenai anak-anak usia sekolah adalah kurangnya kemampuan berkonsentrasi ini. Jika terapi musik ini diikuti dengan benar, besar kemungkinan anak-anak akan terhindar dari hal tersebut.

Namun, tak perlu khawatir kalau semasa hamil, ibu belum sempat memanfaatkan terapi musik ini, sebab, “Terapi musik tetap bisa dilakukan mulai sampai anak berusia 3 tahun, bahkan lebih,” ungkap Louise. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk segera memulainya. Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, ada baiknya untuk mulai diperkenalkan dengan alat musik, sehingga mereka bisa bermain musik untuk dirinya sendiri.

MUSIK YANG DIANJURKAN DAN TIDAK

Namun, nyatanya tidak semua musik dianjurkan untuk diperdengarkan pada janin, bayi dan balita. “Yang tidak disarankan adalah musik dengan irama keras dan cepat, seperti irama rock, disco, serta rap. Musik yang terlalu keras akan membuat mereka tegang dan gelisah,” tambahnya. Jadi, bukan jenis musiknya yang boleh atau tidak boleh, tapi beat atau iramanya.

Kalau pakar menganjurkan kita untuk menyimak dan memperdengarkan musik klasik, itu karena komposisinya yang sangat lengkap dan harmonis. Lalu, bagaimana dengan orang tua yang tidak menyukai musik klasik?

“Bisa jadi sebenarnya mereka bukan tidak suka, tapi tidak menyadari bahwa selama ini musik klasik selalu hadir dalam kehidupannya. Perhatikan, deh, saat menonton film kartun di teve, musik yang mengiringi biasanya jenis musik klasik,” tanggap Louise. Jadi sebaiknya orang tua belajar untuk mulai menyukainya lebih dulu. “Kalau ternyata tetap tidak suka, pilihlah jenis musik lain sepanjang iramanya mengalun lembut.”

Setelah bayi lahir, jenis musik yang diperdengarkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi saat itu. “Menjelang ia tidur, pilihlah musik instrumental yang tenang dan lembut. Dengan begitu, anak dapat segera terlelap,” saran Louise lagi. “Sebaliknya, untuk menemani anak bermain, pilih musik yang bernada riang dan gembira, sehingga ia merasa bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.”

Mozart, Terbukti Paling Positif

Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya gubahan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, musik-musik karyanya memberikan efek paling positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “efek Mozart”.

Dibanding gubahan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Komposisi yang disusunnya telah berhasil menghadirkan kembali keteraturan bunyi yang pernah dialami bayi selama dalam kandungan. “Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan, lo,” tukas Louise.

Efek Mozart

Dengan memperdengarkan Mozart secara teratur semenjak masa kehamilan, akan banyak efek positif yang bisa didapat. Di antaranya:

  • Orang tua dapat berkomunikasi dan bersambung rasa dengan anak bahkan sebelum ia dilahirkan.
  • Musik ini dapat merangsang pertumbuhan otak selama masih dalam rahim dan pada awal masa kanak-kanak.
  • Memberikan efek positif dalam hal persepsi emosi dan sikap sejak sebelum dilahirkan.
  • Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik.
  • Meningkatkan perkembangan motoriknya, termasuk lancar dan mudahnya anak merangkak, berjalan, melompat dan berlari.
  • Meningkatkan kemampuan berbahasa, perbendaharaan kata, kemampuan berekspresi, dan kelancaran berkomunikasi.
  • Meningkatkan kemampuan sosialnya.
  • Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan untuk mengingat serta menghapal.
  • Membantu anak membangun rasa percaya dirinya.

Memasuki bulan ke-5 kehamilan, indera pendengaran janin sudah semakin baik, sehingga dapat merespons suara dari luar. Saat inilah para calon ibu disarankan untuk mulai memperdengarkan musik untuk janinnya. Dengan mendengarkan musik, keterampilan motorik dan kognitif janin menjadi lebih baik karena musik menjadi stimulasi bagi perkembangan jumlah sel dan percabangan sel-sel otak ketika sang bayi lahir. Selain itu, mendengarkan musik juga menjadi sarana peredam stres bagi sang calon ibu, sekaligus untuk melakukan bonding dengan sang janin.

Jenis musik yang biasanya disarankan untuk ibu dan janinnya adalah musik klasik, terutama Mozart. Masalahnya, bagaimana bila sang ibu tidak menyukai (atau tidak mampu menikmati) musik klasik? Maklum, musik klasik seringkali disebut-sebut sebagai musik yang rumit. “Ada saja lho, pasien yang datang ke saya dan mengeluh karena merasa tidak suka musik klasik,” ujar dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dalam Sleep Symposium yang diadakan oleh Pampers Active Baby di Gran Melia, Jakarta, Jumat (20/11).

Padahal, musik klasik bukan satu-satunya jenis musik yang dapat menstimulasi perkembangan sel-sel otak. Menurut dokter spesialis anak dari EKA Hospital BSD City ini, yang lebih penting adalah memilih musik yang dapat membuat sang ibu happy, sehingga dapat menembus neurotransmitter.

Neurotransmitter adalah zat yang dapat mengaktifkan sinaps (hubungan antarsel otak), dimana semakin banyak sinaps berarti semakin kompleks kemampuan otak. Neurostransmitter hanyalah satu di antara beberapa hal yang menandai kualitas otak. Hal lainnya adalah banyaknya sel otak, percabangan sel otak, dan mielinisasi (mielin adalah selubung yang berperan pada kecepatan hantaran antarsel syaraf).

Karena itu, teruslah mendengarkan musik yang Anda sukai sejak sebelum hamil. Tak hanya mampu menstimulasi sel-sel sotak sang janin, musik yang Anda dengarkan pun bisa membuatnya ikut happy.KOMPAS.com -

Pada waktu saya mengandung (hamil) yang pertama sekitar 27 tahun lalu, saya aktif memberi pelajaran piano klasik kepada anak-anak maupun dewasa. Kegiatan mengajar piano itu sudah saya tekuni sejak masih menjadi mahasiswi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kemudian dilanjutkan sesudah berumah tangga dan juga setelah bekerja sebagai psikolog.

Saya sama sekali tidak mengetahui dan menyadari bahwa kegiatan musik yang saya lakukan sejak awal kehamilan, sampai pada saat akan melahirkan, akan membawa dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kecerdasan anak saya.

Sebagai seorang ibu saya bahagia dan bangga melihat perkembangan mental putera saya yang cepat, betapa tidak, sejak kecil ia sudah menunjukkan minat baca yang besar. Usia dua setengah tahun, ia sudah masuk playgroup. Prestasi belajarnya sejak SD, SMP, SMA maupun di Perguruan Tinggi lancar dan selalu mendapat ranking. Dalam bidang matematika prestasinya menonjol, sehingga kadang-kadang timbul pertanyaan dalam hati saya:
“Darimana anak saya ini memperoleh bakat matematika, sebab saya sendiri tidak mungkin? Saya paling tidak suka matematika atau jaman saya sekolah dulu disebut dengan ilmu berhitung!”

Jawaban terhadap pertanyaan saya mengenai prestasi belajar yang dicapai putera saya selama ini, akhirnya saya peroleh ketika mendapat tugas belajar ke Jerman pada 1985-1987.

Saya mengambil training dalam bidang Terapi Musik dan juga bidang diagnostik Perkembangan Psikologis bayi sampai dengan usia balita. Selama mengambil training dalam bidang Terapi Musik tersebut, saya mendapatkan pengetahuan yang sangat penting dan berharga dari dosen pembimbing saya, yaitu:

Menurut hasil penelitian ilmiah dari berbagai macam pakar seperti dokter ahli syaraf, psikolog, dokter anak, dokter kebidanan, dan lain-lain menyampaikan bahwa:

1. Sudah ada proses belajar sejak dalam kandungan.
Rahim ibu lebih menyerupai “ruang kelas” dari pada anggapan selama ini hanya sebagai “ruang tunggu”.

2. Janin telah dapat mendengar secara jelas pada usia enam bulan dalam kandungan, sehingga ia dapat menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai dengan irama nada suara ibunya atau cara ibunya berbicara.

3. Janin juga mampu untuk belajar sedikit mengenai musik pada usia 4/5 bulan. Artinya: secara pasti janin dapat bereaksi terhadap bunyi dan melodi dengan cara berbeda-beda terhadap ritme atau irama musik. Misalnya: Jika kita memutar lagu berirama lembut, maka janin yang sedang gelisah sekalipun akan merasa tenang atau relaks. sebaliknya jika kita memutar lagu-lagu dengan irama cepat/ lagu-llagu Pop atau Rock, maka janin yang paling tenang pun akan mulai menendang secara aktif bergerak.

4. Janin dalam kandungan sudah memiliki perasaan, kesadaran, dan daya ingat.

5. Janin dalam kandungan yang diberi rangsangan suara termasuk “Musik” secara teratur dan terus-menerus ternyata mampu memacu kecerdasan bayi setelah lahir.

Atas dasar hasil penelitian dari para pakar tersebut maka musik telah digunakan sebagai salah satu aktivitas dalam penatalaksanaan pengobatan berbagai penyakit fisik maupun fisik / mental dan dikenal dengan nama “Terapi Musik”

II. Apakah Itu Terapi Musik?

Terbukanya misteri musik yang mampu mempengaruhi kondisi kesehatan seorang, baik fisik maupun menta, sehingga timbullah beragam pengertian terapi musik tersebut seperti dibawah ini;

1. Terapi musik adalah suatu bentuk kegiatan yang mempergunakan musik dan lagu/nyanyi secara terpadu dan terarah didalam membimbing ibu-ibu tersebut selama masa kehamilan yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan:
– Relaksasi bagi ibu-ibu hamil.
– Stimulasi dini pada janin.
– Menjalin keterikatan emosional antara ibu hamil dan janinnya.

2. Terapi musik adalah suatu bentuk terapi dengan mempergunakan musik secara sistimatis, terkontrol dan terarah didalam:
– Menyembuhkan.
– Merehabilitasi.
– Mendidik dan
– Melatih anak-anak dan orang dewasa yang menderita gangguan fisik, mental, atau emosional.

3. Terapi musik adalah suatu kegiatan dalam belajar yang mempergunakan musik untuk mencapai tujuan-tujuan seperti:
– Merubah tingkah laku.
– Menjaga/memelihara agar tingkah laku atau kemampuan yang telah dicapai tidak mengalami kemunduran.
– Mengembangkan kesehatan fisik dan mental.

4. Terapi musik adalah suatu disiplin ilmu yang rasional yang memberi nilai tambah pada musik sebagai dimensi baru secara bersama dapat mempersatukan seni ilmu pengetahuan dan emosi (perasaan cinta, kasih sayang, dan lain sebagainya).

Jadi, dari pengertian-pengertian tersebut diatas terlihat bahwa adanya keterkaitan antara musik dengan emosi atau mental seseorang. Khususnya untuk ibu-ibu hamil dan ibu-ibu sesudah melahirkan seperti tertuang dalam pengertian pertama, terlihat bahwa terapi musik antara lain bertujuan memberikan stimulasi pada janin / bayi agar kelak menjadi anak yang cerdas dan berkualitas

III. Hubungan Musik dan Fungsi Otak

Otak manusia, termasuk otak bayi, terdiri dari belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Otak ini mulai terbentuk pada awal kehamilan dan berkembang dengan pesat sampai bayi lahir.

Belahan otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik yang terdiri dari berbicara-kemampuan tata bahasa, baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, peristiwa) logika, angka, analisis, dll.

Belahan otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, dan pengembangan kepribadian.

Dari penjelasan mengenai fungsi otak kiri dan kanan, maka dapat diketahui belahan otak kanan ada kaitannya dengan “musik”. Oleh sebab itu pada pelaksanaan terapi musik bagi ibu-ibu hamil maka perangsangan atau stimuli mental (dengan musik atau cara-cara lainnya) haruslah mencakup peningkatan perkembangan dari kedua belah otak tersebut. Agar bayi/anak kita kelak tubuh dan berkembang menjadi individu atau manusia seutuhnya, harus ada keseimbangan antara fungsi otak kiri dan fungsi otak kanannya. Sebab dalam kehidupan sehari-hari ada individu/orang yang fungsi otak kiri lebih menonjol daripada otak kanan.
Contoh:
– Ahli matematika yang tidak suka musik
– Ahli bedah yang muak melihat isterinya membaca buku-buku novel atau membeli barang-barang seni (lukisan dsb).

Disisi lain ada individu/orang yang kemampuan otak kanannya lebih menonjol.
Contoh:
– Ia lebih suka melamun, bermimpi
– Membuat novel
– Menulis lagu
– Ia akan merasa pusing bi;la dihadapkan pada angka-angka metematika atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kemampuan akademik.

Mengapa….!” Kenyataan-kenyataan dalam kehidupan sehari-hari seorang anak/individu bisa terjadi yaitu kecenderungan untuk si Harry lebih mengembangkan otak kiri, sedangkan si Sarah lebih menonjol fungsi otak kanannya.

Salah satu sebabnya diduga akibat “kekurangtahuan” orangtua, guru, dll. Seperti juga dikemukakan oleh seorang pakar “Parent Education” USA yaitu ”SUE TREFFEISSEN All parents wants to be good parents but most parents just don’t have the information that they need to know how their children are growing and developing”.

Jadi sebenarnya belahan otak kiri dan otak kanan bila bekerja sama akan saling memperkuat. Oleh karenanya disarankan kepada orang tua untuk merangsang perkembangan otak anak tidak hanya otak kiri saja, melainkan secara bersamaan juga otak kanannya.

Dengan kata lain orang tua perlu merangsang sejak dini kecerdasan mental (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) anak-anaknya.

IV. Manfaat Terapi Musik Bagi Ibu hamil dan Ibu Sesudah Melahirkan

Banyak manfaat yang didapat dari terapi musik bagi ibu-ibu hami / ibu-ibu sesudah melahirkan dalam mempersiapkan janin menjadi anak cerdas dan berkualitas

1. Bagi ibu hamil / ibu sesudah melahirkan maupun janin / bayi, terapi musik dapat menimbulkan reaksi psikologis, karena musik dapat menenangkan (relaksasi) dan juga memberikan rangsangan (stimulasi).

2. Melalui kegiatan terapi musik dapat menyongsong masa depan bayi / anak yang lebih cemerlang, karena untuk menghadapi era globalisasi dibutuhkan individu-individu yang memiliki ketrampilan “otak” akan lebih dihargai tinggi, dan sangat dibutuhkan bila dibandingkan dengan indiividu yang hanya mengandalkan kekuatan “otot”.

3. Kegiatan terapi musik dapat membantu ibu-ibu hamil agar tetap dapat mempertahankan keseimbangan antara kesehatan jasmani, pikiran, dan emosi. Musik menurut pendapat “Yuliette Alvin” seorang pakar Terapi Musik adalah sebagai berikut “Music is a means of communication and in this simple truth lies the tremendous therapeutic value of music.

4. Melalui rangsangan-rangsangan musik yang diperdengarkan kepada janin / bayi secara teratur, maka dapat memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi tersebut kelak dikemudian hari.

5. Dalam diri anak kelak akan tumbuh kepribadian yang kuat dan ia mampu menyerap banyak hal.

6. Ia dapat meresapi musik, berarti ia juga mampu memahami perasaan orang lain.

V. Kesimpulan

Dalam proses kehidupan individu sejak dalam rahim sampai usia dewasa, maka salah satu aspek perkembangan yang penting adalah perkembangan otak.

Upaya yang berkesinambungan untuk mamacu perkembangan otak kiri atau kanan perlu dilakukan dengan berbagai cara atau metode yang bijaksana yaitu antara lain dengan memberikan rangsangan suara, termasuk musik, dan dari hasil peneltian ternyata bahwa janin dalam kandungan yang diberi rangsangan suara/musik dapat memacu kecerdasan bayi setelah lahir. Partisipasi aktif dari ibu-ibu hamil dan ibu-ibu sesudah melahirkan melalui terapi musik diharapkan ikut memacu perkembangan anak-anak menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan berkepribadian matang.

Oleh: Dra. Hj. Iesye Widodo, SPsi (Psikolog dari RSAB Harapan Kita)

Ibu hamil yang membutuhkan relaksasi, bisa mendengar musik kapan saja dan mana saja. Rangsangan berupa suara yang Menenangkan itu juga akan dinikmati janin. Namun, seperti yang dikatakan Dra. Hj. Iesye Widodo, Psi., ahli terapi musik dari klinik Tiara Putera, untuk hasil optimal, terapi musik bagi janin harus dilakukan secara terprogram atau tidak sembarangan.

EFEKTIF SAMPAI USIA 3 TAHUN

Seperti sudah kita ketahui, otak janin sudah bekerja di usia kehamilan 16 minggu. Setelah melalui proses pembentukan, kesempurnaannya terjadi di usia kandungan 18-20 minggu. “Di usia inilah,” menurut Iesye, “terapi musik paling baik mulai dilakukan, karena perlengkapan pendengaran janin sudah semakin sempurna.” Namun, sejak di trimester pertama pun ibu sudah boleh melakukannya, meski janin belum dapat bereaksi. Terapi ini lebih ditujukan kepada ibu untuk mengurangi kadar stres saat menjalani masa mual-muntah.”

Untuk anak, terapi musik paling efektif diterapkan sejak di dalam kandungan hingga usianya 3 tahun. Mengapa demikian? Karena selama periode itu, otak anak mengalami pertumbuhan dan kemudian perkembangan yang amat pesat. Namun, bukan berarti di usia selanjutnya terapi musik tidak akan membawa manfaat, hanya saja potensi rangsangannya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Jadi, sampai usia berapa pun musik tetap bermanfaat. Namun, jika tujuannya untuk merangsang kecerdasan sebaiknya jangan sampai lewat dari usia 8 tahun.

MENGATUR JADWAL

Iesye menekankan, ibu bisa menentukan sendiri waktu terapi yang tepat, boleh pagi, siang, sore atau malam. Yang penting, ketika sudah memilih waktunya, maka ibu harus konsisten dengan waktu tersebut. “Kalau sudah menetapkan di pagi hari, maka selanjutnya harus di pagi hari, jangan diubah.” Pilihlah waktu sesuai kesempatan yang dimiliki. Bagi ibu yang bekerja misalnya, mungkin pagi hari bukanlah waktu yang tepat. Jadi, lakukan di malam hari atau di sela-sela waktu kerjanya. “Yang penting berkesinambungan dan konsisten. Bila tidak, maka hasilnya akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.”

Selain waktu ibu, waktu janin juga perlu dipertimbangkan. Bagaimanapun, menurut Iesye, akan lebih baik bila terapi dilakukan ketika janin sedang tidak tidur. Pada saat terjaga, janin bisa menyimak rangsangan suara secara aktif. Dengan begitu, daya ingatnya juga ikut terangsang dan bertambah kuat.

Menurut penelitian, janin akan terjaga saat ibu selesai makan, terutama makan siang. Nah, waktu-waktu ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan terapi. Namun, tidak dijamin juga bahwa setelah ibu makan siang, janin pasti terjaga. Bisa saja, ia terjaga di pagi, sore, atau bahkan ketika ibu sedang tidur. Jadi, tak mesti juga ibu memaksakan diri melakukan terapi musik bagi janin segera setelah waktu makannya.

Ketika bayi sudah lahir, dengan melihat kondisinya sehari-hari, ibu bisa lebih mudah menentukan kapan waktu yang tepat. Bila anak biasa terjaga dan tenang di pagi hari, pilihlah waktu tersebut, tentu dengan mempertimbangkan waktu ibu juga. Siang, sore, atau malam hari pun tidak mengapa selama waktu tersebut merupakan waktu terjaganya.

PILIHAN LAGU DAN MUSIK

Untuk terapi, sebaiknya ibu tidak hanya memperdengarkan gubahan musik klasik. Selingi dengan lagu anak-anak agar ibu bisa sekalian mengajak bayi berkomunikasi. “Banyak jenis musik lain terbukti dapat merangsang kecerdasan. Misalnya, musik instrumen rebana, lagu anak-anak, dan lagu-lagu rohani,” ungkap Iesye.

Pada anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme, terapi musik ini harus dipandu oleh tenaga ahli yang mengerti kondisinya. Mulai jenis musik dan frekuensinya harus disusun berdasarkan kondisi kasus per kasus.

Pada anak yang terlalu aktif misalnya, terapi musik yang diberikan pada intinya harus bisa memuaskan emosi yang sering berlebihan. Bisa dengan musik klasik jenis tertentu atau diberikan alat musik pukul seperti rebana. Lewat aktivitas memukul ini, diharapkan emosinya dapat diluapkan secara positif. “Pokoknya, mereka diarahkan untuk melakukan aktivitas yang menimbulkan bunyi, irama, atau sesuatu yang menyenangkan, sehingga naluri agresif dan destruktifnya bisa tersalurkan,” ujar Iesye.

Sebaliknya, bila anak terlalu pasif, jenis musik yang diberikan harus dapat merangsangnya agar menjadi aktif. Biasanya, dipilih musik yang bernuansa ramai. “Pemberian alat musik seperti rebana pun bisa merangsang aktivitas anak,” tambahnya.

CARA MELAKUKAN

Iesye menganjurkan, ketika ingin memulai terapi, sebaiknya ibu berkonsultasi dulu dengan terapis profesional untuk mendapatkan pengarahan, seperti apa manfaatnya, kapan harus dilaksanakan, dan bagaimana caranya secara terperinci. Tentu saja agar terapinya berjalan efektif dan optimal. “Selanjutnya, ibu bisa mempraktekkannya di rumah sambil membaca berbagai referensi yang memang sangat penting diketahui.”

Saat mendengarkan musik, ambil posisi sekitar setengah meter dari tape atau dapat menggunakan walkman. Usahakan volume suaranya jangan terlalu keras ataupun lemah, tetapi sedang-sedang saja. Intinya, volume tersebut dapat menyamankan dan membuat ibu bisa berkonsentrasi penuh. Sesekali, boleh menempelkan earphone ke perut ibu agar janin bisa mendengar lebih jelas. Ketiga cara ini, sama baiknya.

Dianjurkan pula untuk tidak mendengarkan musiknya saja, kalau bisa ibu ikut berdendang mengikuti melodi atau liriknya. Untuk itu, bisa pilih lagu Twinkle-twinkle Little Star atau lagu-lagu ciptaan Ibu Sud, Pak Kasur, dan A.T Mahmud. Selain syair-syairnya cocok buat anak, lagu-lagu itu juga tidak lekang digusur zaman.

Waktu yang diperlukan untuk terapi sekitar 30 menit setiap hari. Asalkan ibu bisa berkonsentrasi dengan baik, dalam sehari boleh satu, dua, atau tiga lagu yang didengarkan. Bila banyaknya jenis lagu malah membuyarkan konsentrasi, sebaiknya pilih satu jenis saja dalam sehari.

=========================

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s