3 MACAM POLA ASUH DALAM KELUARGA


KALAU MAU ANAK BERTUMBUH

ORANG TUA HARUS BERUBAH

POWER POINT DAPAT DIUNDUH GRATIS DI SINI:

KALAU MAU ANAK BERTUMBUH

Semua orang tua ingin anaknya bertumbuh

Seperti pohon yang memiliki AKAR, BATANG, BUNGA, BUAH


Ams
 22:6
Didiklah u  orang muda menurut jalan yang patut baginya 1 , v  maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang w  dari pada jalan itu.

 

Didiklah: to train ( melatih), dedicate ( mendedikasikan), inaugurate ( melantik)

Orang Muda: young man, servant ( bujangnya), child, children, youth,boys,

Jalan; jalan-jalanMu, arah, kelakuan, melalui, tingkah laku, menuju, jalanMu, hidup, jejak, berkiblat, tindakanKu, cara hidup, berbalik, firman, kebiasaan, pertobatannya, peri lakuku, pekerjaanNya, penjuru, seperti ayahnya, jalan yang Kutunjukkan.

Abdikanlah generasi ini, menurut cara hidup yang seturut dengan firmanNya,

maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Mengapa bisa dipastikan tidak menyimpang, kerena tertancap kuat, seperti akar pohon yang begitu kuat dan sulit untuk dicabut. Tidaklah mudah memindahkan pohon yang sudah berakar, hampir bisa dikatakan mustahil melakukannya.

Maka tergantung tanaman seperti apa yang kita tanam.

Apakah kita mencetak sebuah generasi pohon beracun, yang dari akarnya, batangnya sampai buahnya kelak beracun.

Ataukah kita mencetak sebuah generasei pohon kehidupan, yang dari akarnya, batangnya sampai buahnya kelak bermanfaat bagi kehidupan orang banyak.

2 CONTOH NYATA:

  1. Samuel

Samuel mendapat pendidikan dari Elkana dan Hana sampai usia Batita ( lebih kurang sampai usia 3 tahun, karena budaya Israel memberikan ASI kepada bayinya sampai usia 3 tahun). Akar takut akan Tuhan ditanamkan dalam diri Samuel

Kemudian Samuel tinggal di lingkungan keluarga Eli yang mana Hofni dan Pinehas merupakan dua pemuda yang korupsi/serakah, tidak takut dan hormat pada Tuhan ( I Sam 2:11-17), melakukan free sex ( I Sam 2:22)

Dalam keadaan seperti itu, Samuel tidak terpengaruh, dia tetap dapat bertumbuh menjadi pelayan Tuhan yang luar biasa ( I Sam 2: 26, 3:19-20, 4:1a). Pohon kehidupan Samuel tetap kokoh, memuliakan nama TUHAN.

Musa diberi ASI sampai 3 bulan, kemudian dihanyutkan di Sungai Nil, kemudian diberi ASI lagi oleh ibunya sendiri. Akar takut akan Tuhan ditanamkan dalam hidup Musa.

Maka walaupun kemudian Musa dididik dalam didikan Mesir yang kafir dan tidak kenal Tuhan yang Hidup, hidup dalam kemewahan istana, namun pada masa dewasanya Musa tetap tidak meninggalkan jalan Tuhan. (Ibrani 11: 23-29) Tetap memegang teguh imannya di dalam Tuhan.

Contoh lain:

EFEK MENANAM TINDAKAN POSITIF

Suatu malam seorang pria sedang berjalan ke Gereja.

Ketika ia bertemu 4 orang anak laki² yg sedang luntang-lantung di pojok jalan,

maka pria itu mengajak mereka untuk mengikuti ibadah bersamanya.

Ternyata mereka mau,

bahkan ke 4 anak itu juga mau kembali ke Gereja bersama pria itu pada Minggu berikutnya.

Mereka akhirnya menjadi cikal-bakal dari Kelas Sekolah Minggu yg mulai di ajar oleh Pria itu.

Ber-tahun² kemudian,

Pria itu memutuskan untuk mencoba menghubungi ke 4 anak laki² itu untuk mengetahui apa yg telah terjadi dalam kehidupan mereka,

& meminta kesediaan mereka untuk menuliskan Sebuah Ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Guru Sekolah Minggu mereka,

yg akan di bacakan pada Sebuah Pesta Kejutan.

Ternyata surat² balasan dari mereka mengungkapkan bahwa salah satu dari mereka telah menjadi Misionaris untuk China,

yg satunya adalah Presiden Federal Reserve Bank,

yg satunya lagi adalah Sekretaris Pribadi Presiden Herbert Hoover,

& yg terakhir adalah Presiden Hoover sendiri.

Bila hari ini kita memiliki Segenggam Benih di tangan kita,

kita tak dapat meramalkan yg mana dari benih² itu yg akan benar² Bertunas & Menghasilkan Sebatang Pohon Raksasa.

Sungguh menakjubkan bahwa sebatang Pohon Pinus yg sangat besar dapat tumbuh dari Benih yg Amat Kecil.

Satu²nya cara untuk Mengetahui Biji mana yg akan Bertumbuh & Menjadi Pohon yg Besar adalah dgn Menanamnya.

Bila kita Menanamkan Tindakan² Positif, Nilai² Kebenaran & Kemurahan Hati kepada anak² kita,

orang lain di sekitar kita,

m a k a kita Tak Akan Pernah tau Pohon sebesar Apa yg dapat Tumbuh dari Benih Kecil itu.

MARI SELALU LAKUKAN YG TERBAIK BAGI ANAK² KITA,

KELUARGA KITA & ORANG LAIN DI SEKELILING KITA,

K A R E N A KITA TAK PERNAH TAU MUJIZAT APA YG DAPAT TERJADI DALAM KEHIDUPAN MEREKA DAN KEHIDUPAN KITA SENDIRI.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

(Kolose 3:23).

 

Mengapa Tuhan memakai sebuah keluarga untuk menancapkan akar kehidupan yang begitu kuat pada sebuah generasi atau pada seorang anak?

Karena beberapa alasan sbb:

  1. Keluarga adalah pihak yang paling pertama memberikan perlakuan kepada anak
  2. Sebagian besar waktu seorang anak dihabiskan di lingkungan keluarga
  3. Ketergantungan seorang anak kepada orang tuanya, sangat besar karena secara materi, dan ikatan psikologis sangat kuat.
  4. Interaksi kehidupan orang tua dan anak bersifat ‘asli’, wajar dan tidak dibuat-buat.
  5. Peran keluarga yang bersifat memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak, perilaku anak, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai-nilai , serta pembentukan kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga.

 

Ada 6 hal yang bisa membentuk kepribadian anak, yaitu:

Radin dalam Wahab (1999) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak yaitu melalui:

  1. Pemodelan perilaku (modeling of behavior).
  2. Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punisment)
  3. Perintah langsung (direct instruction)
  4. Menyatakan peraturan-peraturan (stating rules)
  5. Nalar (reasoning)
  6. Menyediakan fasilitas atu bahan-bahan dan adegan (providing materials and setting)

 

POLA INTERAKSI ORANG TUA TERHADAP ANAK

Pendidikan keluarga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Pola asuh orang tua secara harfiah mempunyai maksud pola interaksi antara orangtua dan anak. Pola interaksi ini meliputi, bagaimana sikap atau perilaku orang tua

  • dalam menerapkan aturan,
  • mengajarkan nilai/norma,
  • memberikan perhatian dan kasih sayang
  • serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/model bagi anaknya

Anak secara kontinu berkembang baik secara fisik maupun secara psikis untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan anak dapat terpenuhi apabila orang tua dalam memberi pengasuhan dapat mengerti, memahami, menerima dan memperlakukan anak sesuai dengan tingkat perkembangan psikis anak, disamping menyediakan fasilitas bagi pertumbuhan fisiknya. Hubungan orang tua dengan anak ditentukan oleh sikap, perasaan dan keinginan terhadap anaknya. Sikap tersebut diwujudkan dalam pola asuh orang tua di dalam keluarga.

 

3 MACAM POLA ASUH DALAM KELUARGA:

  1. OTOLITER
  2. PERMISIF
  3. OTORITATIF

Secara garis besar, pola asuh orang tua dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu :

  • Pola Asuh Otoriter.

Dalam pola asuh ini orang tua menerapkan seperangkat peraturan kepada anaknya secara ketat dan sepihak, cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat diktator, menonjolkan wibawa, menghendaki ketaatan mutlak. Anak harus tunduk dan patuh terhadap kemauan orang tua. Apapun yang dilakukan oleh anak ditentukan oleh orang tua. Anak tidak mempunyai pilihan dalam melakukan kegiatan yang ia inginkan, karena semua sudah ditentukan oleh orang tua. Tugas dan kewajiban orang tua tidak sulit, tinggal menentukan apa yang diinginkan dan harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh anak. Selain itu, mereka beranggapan bahwa orang tua harus bertanggungjawab penuh terhadap perilaku anak dan menjadi orang tua yang otoriter merupakan jaminan bahwa anak akan berperilaku baik. Orang tua yakin bahwa perilaku anak dapat diubah sesuai dengan keinginan orang tua dengan cara memaksakan keyakinan, nilai, perilaku dan standar perilaku kepada anak. Anak yang dibesarkan dalam keluarga otoriter cenderung merasa tertekan, dan penurut. Mereka tidak mampu mengendalikan diri, kurang dapat berpikir, kurang percaya diri, tidak bisa mandiri, kurang kreatif, kurang dewasa dalam perkembangan moral, dan rasa ingin tahunya rendah. Dengan demikian pengasuhan yang otoriter akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak kelak yang pada gilirannya anak sulit mengembangkan potensi yang dimiliki, karena harus mengikuti apa yang dikehendaki orangtua, walau bertentangan dengan keinginan anak. Pola asuh ini juga dapat menyebabkan anak menjadi depresi dan stres karena selalu ditekan dan dipaksa untuk menurut apa kata orangtua, padahal mereka tidak menghendaki. Untuk itu sebaiknya setiap orangtua menghindari penerapan pola asuh otoriter ini.

Contoh dalam Alkitab:

Yakub dalam asuhan Ribkah

Ribkah memaksakan kehendaknya pada Yakub. (Kej 27: perhatikan pada ayat 8,13,15) Yakub bertumbuh menjadi pribadi hanya dalam 1 dimensi kecerdasan saja ( yaitu di nature smart saja) , tidak seperti tokoh-tokoh Alkitab lainnya yang memiliki segudang dimensi kecerdasan. Lebih lanjut mengenai 8 Dimensi Kecerdasan menurut Alkitab dapat dipelajari di :

https://jeniuscaraalkitab.com/2016/04/16/belajar-menjadi-penulis-materi-anak-sesi-5/#more-12443

 

 2) Pola asuh permisif

Pola asuh ini memperlihatkan bahwa orang tua cenderung memberikan banyak kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Orang tua banyak bersikap membiarkan apa saja yang dilakukan anak. Orangtua bersikap damai dan selalu menyerah pada anak, untuk menghindari konfrontasi. Orang tua kurang memberikan bimbingan dan arahan kepada anak. Anak dibiarkan berbuat sesuka hatinya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Orang tua tidak peduli apakah anaknya melakukan hal-hal yang positif atau negatif, yang penting hubungan antara anak dengan orang tua baik-baik saja, dalam arti tidak terjadi konflik dan tidak ada masalah antara keduanya. Pola permisif adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula pusing-pusing memedulikan kehidupan anaknya. Jangan salahkan bila anak menganggap bahwa aspek-aspek lain dalam kehidupan orang tuanya lebih penting daripada keberadaan dirinya. Walaupun tinggal di bawah atap yang sama, bisa jadi orang tua tidak begitu tahu perkembangan anaknya. menimbulkan serangkaian dampak buruk. Di antaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Bukan tidak mungkin serangkaian dampak buruk ini akan terbawa sampai ia dewasa. Tidak tertutup kemungkinan pula anak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Akibatnya, masalah menyerupai lingkaran setan yang tidak pernah putus.

 

Keluarga BURUNG UNTA akan kita pelajari di AYUB 39: 16-21

Burung UNTA memperlakukan anak-anaknya sbb:

Dengan riang sayab burung unta  berkepak-kepak, tetapi apakah kepak dan bulu itu menaruh kasih sayang?

Sebab telurnya ditinggalkannya di tanah, dan dibiarkannya menjadi panas di dalam pasir, tetapi lupa, bahwa telur itu dapat terpijak kaki, dan diinjak-injak oleh binatang-binantang liar.

Ia memperlakukan anak-anaknya dengan keras seolah-olah bukan anaknya sendiri, ia tidak perduli, lau jerih payahnya sia-sia, karena Allah tidak memberinya hikmat, dan tidak membagikan pengertian kepadanya.

Jenis orang tua yang seperti ini, adalah jenis orang tua yang membiarkan anak-nya tidak memiliki keperdulian terhadap anaknya, anaknya dibiarkan saja, sehingga menjadikan anak-anaknya generasi yang liar, pemberontak, dan tidak memiliki etika

Burung unta meninggalkan anaknya; tidak adanya kehadiran orang tua dalam keluarga jenis burung unta

Burung unta membiarkan anaknya; tidak adanya komunikasi orang tua dan anak dalam keluarga jenis burung unta

Telur burung unta bisa saja terinjak-injak; keluarga jenis burung unta, membiarkan anak-anaknya diinjak-injak oleh system nilai dunia, membiarkan anak-anaknya dibuly, dan ( tambahan dari perangkum: membiarkan anak-anaknya jatuh dalam pelecehan sexual, karena korban pelecehan sexual adalah anak-anak yang kurang kasih sayang dan sangat mudah jatuh dalam jerat pelaku pelecehan yang pura pura baik dan perhatian)

Perhatikan ada kata ‘ ia memperlakukan anak-anaknya dengan KERAS’

Di sini ternyata kekerasan pada anak, bisa berupa PEMBIARAN. Anak yang dibiarkan, sebenarnya sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Keluarga Burung Unta menerapkan POLA ASUH PERMISIF/

 

Contoh dalam Alkitab:

Hofni dan Pinehas, dalam didikan Eli.

Imam Eli lebih  menghormati anak-anaknya daripada TUHAN ( I Sam 2: 29). Setiap kali didengar bahwa anak-anaknya tidur dengan perempuan-perempuan pelayan di depan pintu Kemah Pertemuan, Eli tidak menindak mereka secara tegas sesuai dengan Hukum Taurat. Eli hanya menasihati mereka seperti seorang balita. Padahal, menurut Taurat, semestinya Eli membawa mereka ke depan tua-tua Israel dan mengadukan segala kejahatan mereka, lalu melontari mereka dengan batu ( Ulangan 21: 18-21)

 

Sebelum membahas keluarga Daud, sebaiknya kita pelajari dulu ayat sbb:

  • Kis 13: 36 Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya. Kata ‘melakukan kehendak Allah’ artinya: serve, minister unto ( melayani/melakukan kehendak, telah bekerja)
  • Perhatikan ayat ini bukan berbicara mengenai keluarga, bagaimana Daud menjadi seorang kepala keluarga, melainkan hanya pada lingkup pelayanannya saja, pekerjaannya saja.
  • Sebagai seorang Ayah, Daud memiliki kekurangan dalam pola asuhnya kepada anak-anaknya.

Adonia, anak Hagit,  dalam didikan Daud.

  • I Raja-raja 1:5 -6 Lalu Adonia,c  anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: “Aku ini mau menjadi raja.” Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta d  dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya.  Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor 1  e  dia dengan ucapan: “Mengapa engkau berbuat begitu?” Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom.
  • Anak yang tidak pernah ditegur dan serba diperbolehkan berbuat apa saja, biasanya adalah karena dia elok, dan anak yang dimanja karena alasan tertentu (dalam hal ini Adonia adalah anak pertama sesudah Absalom). Perhatikan kata AYAHNYA. Alkitab menggaris bawahi bahwa menegor adalah tugas AYAH.
  • Menegor di sini menggunakan kata dengan arti: bersusah hati, membentuk, kesakitan, dilukainya, memilukan, mendukakan, menegor.
  • Artinya, para ayah harus RELA MENEGOR, apabila anaknya berbuat salah, dengan cara BERTANYA, “Mengapa engkau berbuat begitu?” walaupun pada saat yang sama sang ayah akan melakukannya dengan susah hati, sakit, terluka, pilu, berduka, karena menegor pada anak kesayangan. Semua itu memang harus terjadi untuk sebuah proses pembentukan.

Amnon, Tamar dan Absalom dalam didikan Daud

  • Terjadi perkosaan Amnon terhadap Tamar, tetapi Daud dikatakan hanya dikatakan

‘sangat marahlah ia’, itu saja ( II Sam 13:21). Tidak ada perlakuan Daud menghibur Tamar, anak perempuannya itu, ataupun memberi sangsi kepada Amnon, ataupun upaya untuk mendamaikan Absalom dan Amnon. Seharusnyalah Amnon dihukum mati menurut Ulangan 22: 22-30. Peristiwa inilah yang menyebabkan Absalom benci kepada Amnon dan kemudian membunuh Amnon, melarikan diri ke Gesur, dan setelah kembali ke istana, tidak mengalami rekonsiliasi yang baik dengan Daud, ayahnya, dan pada puncaknya melakukan kudeta terhadap pemerintahan ayahnya sendiri.

Pola Asuh otoritatif (Authoritative)

Dalam pola asuh ini, orang tua memberi kebebasan yang disertai bimbingan kepada anak. Orang tua banyak memberi masukan-masukan dan arahan terhadap apa yang dilakukan oleh anak. Orang tua bersifat obyektif, perhatian dan kontrol terhadap perilaku anak. Dalam banyak hal orang tua sering berdialog dan berembuk dengan anak tentang berbagai keputusan. Menjawab pertanyaan anak dengan bijak dan terbuka. Orangtua cenderung menganggap sederajat hak dan kewajiban anak dibanding dirinya. Pola asuh ini menempatkan musyawarah sebagai pilar dalam memecahkan berbagai persoalan anak, mendukung dengan penuh kesadaran, dan berkomunikasi dengan baik. Pola otoritatif mendorong anak untuk mandiri, tetapi orang tua harus tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan  anak yang konstruktif. Anak yang terbiasa dengan pola asuh otoritatif akan membawa dampak menguntungkan.

Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi, baik dengan teman-teman dan orang dewasa. Anak lebih kreatif, komunikasi lancar, tidak rendah diri, dan berjiwa besar.

Penerapan pola otoritatif berdampak positif terhadap perkembangan anak kelak, karena anak senantiasa dilatih untuk mengambil keputusan dan siap menerima segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan demikian potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal, karena anak melakukan segala aktivitas sesuai dengan kehendak dan potensinya. Sementara orangtua memberikan kontrol dan bimbingan manakala anak melakukan hal-hal negatif yang dapat merusak kepribadian anak.

 

KELUARGA RAJAWALI

Ulangan 32: 11

Laksana Rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayabnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya.

Menampung seekor; berbicara mengenai KASIH YANG TIDAK BERSYARAT

Dengan arti kata; mengambil untuk menerima, artinya penerimaan tanpa syarat.

MENGGOYANGBANGKITKAN artinya membangunkan anak-anaknya, yang sedang tidur, untuk mereka bisa membuka mata mereka, ini berbicara mengenai MENARUH IDENTITAS YANG BENAR pada diri anak.

Ada 4 identitas diri, yang setiap anak harus punyai:

Identitas utama yaitu: AKU DICIPTAKAN SERUPA DAN SEGAMBAR DENGAN ALLAH

Identitas sekunder, yaitu; AKU dilahirkan di keluarga seperti apa, di suku apa, di bangsa mana, warna kulitku seperti apa, dll. Identitas seperti ini harus bisa diterima dengan ucapan syukur pada TUHAN

Identitas masa kini; apa talentaku, apa bakatku, dll. Identitas masa kini akan terhubung dengan identitas utama.

Identitas masa depan; cita-cita, harapan, dll

Meletakkan identitas pada diri seorang anak adalah ketika kita memberikan pujian, penerimaan, peneguhan, penguatan hati, penerimaan diri, dll

Contoh: Saat anak-anak mendapat nilai 90, jangan langsung dicari salahnya di mana, tidak telitinya di mana, tetapi puji akan nilai 90 yang sudah diraih, dan puji akan soal-soal tersulit yang sudah dikerjakan dengan betul. Untuk soal-soal yang gagal dijawab, bisa dikerjakan kembali bersama-sama, dibantu untuk bagaimana menyelesaikan soal sulit tersebut, jadi kesalahan yang dibuat untuk DIBANTU bukan untuk DIHAKIMI, sehingga anak-anak terbiasa TERBUKA dan tidak takut untuk mengakui kesalahannya.

MELAYANG-LAYANG berbicara mengenai Orang tua yang stay very close tanpa harus menyentuh, artinya orang tua yang menggunakan otoritasnya sebagai orang tua untuk mengawasi area MORAL anak, namun tidak melakukan INTERVENSI ( tambahan dari perangkum; jadi melakukan pengawasan terhadap moral anak, tetapi tidak bersikap OTOLITER)

MENDUKUNG; adalah sebuah peneguhan/ afirmasi atas anak-anak

Keluarga rajawali, adalah keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan pola; OTORITATIF.

 

Contoh dalam Alkitab:

Ester dalam didikan Mordekai

Ester mendapatkan larangan dari Mordekai ( ayah angkatnya)  bahwa dia dilarang untuk memberitahukan kebangsaan dan asal-usulnya. Dan Ester taat sehingga dia menjalankan larangan ini (Ester 2: 10,20). Ada demokrasi yang apik di antara Mordekai dan Ester di dalam Ester pasal 4. Keputusan bukan karena secara otoliter dipaksakan oleh Mordekai kepada Ester atau karena Ester mengambil keputusan dalam tekanan, melainkan Ester mengambil keputusan sendiri setelah Mordekai memperhadapkan Ester pada pertimbangan dan arahan yang dia berikan.

Pola didikan yang seperti ini menghasilkan: pribadi Ester yang :

  • Taat pada semua protokoler istana
  • Tekun dalam doa dan puasa
  • Berani mempertaruhkan nyawanya bagi keselamatan bangsanya
  • Cakap menyelenggarakan pesta yang dapat memuaskan hati raja
  • Tahu bagaimana mengelola emosinya dengan baik. ( karena dia tidak menggunakan cara biasa ataupun keterburu-buruan dalam mengemukakan perihal kejahatan Haman pada raja)

Mari kita meneladani Yesus, bagaimana Dia bersikap kepada anak-anak: Markus 10: 13-16

  • Dia memeluk mereka; kata ‘memeluk’ artinya ;menjaga seseorang di dalam tangannya sebagai ekspresi kasih.
  • Suami harus biasakan peluk isteri di depan anak-anak, agar anak-anak terbiasa mengerti bahwa mereka pun akan suka dipeluk
  • Yesus meletakkan tanganNya atas mereka, menumpang tangan pada anak-anak, artinya Yesus sedang memberikan sebuah otoritas perlindungan TUHAN atas setiap anak-anak
  • Orang tua biasakan untuk menumpang tangan dan mengucapkan kata-kata berkat pada anak-anak
  • Yesus memberkati anak-anak itu, kata ‘memberkati’ digunakan kata LOGOS, firman, perkataan, artinya Yesus memberkati dengan cara BERBICARA/ MENGUCAPKAN KATA-KATA YANG BISA TERDENGAR, jadi bukan berkata-kata dalam hati saja, tetapi berbicara berkat.
  • Gunakan bahasa yang sejuk pada anak-anak, peluk dan berkati mereka, tumpang tangan dan berkati mereka.

 

Ide kotbah: dari Ibu Stanny Irawati ( di Kampung Sekolah Minggu, GBI Diaspora Batu Malang), Bpk Arman Harijanto yang disampaikan di GMS Breakthrough Kendari, Agustus 2017 ,dikembangkan oleh Susan Grace Sumilat S.MG

Bacaan:

Alkitab

www.jeniuscaraalkitab.com

https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/36751716/ARTIKEL_POLA_ASUH

pokok-anggur.blogspot.co.id

 

Penulis: jeniuscaraalkitab

Menjadi Alat di Tangan Tuhan untuk Mencetak Generasi Jenius bagi Kemuliaan Nama Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s