BELAJAR MENJADI PENULIS MATERI ANAK SESI 4


Mohon maaf, di tayangan tersebut di atas ada yang terlewat, jadi saya sarankan anda menonton lagi lanjutannya ya di Sesi 4B

Bpk Pdt Supriadi dan Ibu Pdt Lidya, sepasang suami isteri ini memerankan Adam dan Hawa dalam diorama.
Bpk Pdt Supriadi dan Ibu Pdt Lidya, sepasang suami isteri ini memerankan Adam dan Hawa dalam diorama.

Makalah dan Power Point sesi ini dapat anda download gratis dengan klik dua tautan berikut ini :

SESI 4 POWER POINT

SESI 4WORD

 

 

SESI 4.

GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN

BELAJAR DARI GURU BESAR AGUNG

Disusun dengan anugrah Tuhan, oleh Grace Sumilat S.MG

 

Baik, hari ini kita akan adakan dua game untuk menjadi semacam pengingat intisari pelajaran sesi 3 minggu lalu

 

GAME 10 FAKTA

  • Kita akan tunjuk dua orang yang menghadiri acara yang sama, namun bagi si A, acara itu sangat berkesan sekali dalam hidupnya, namun bagi si B acara itu sama sekali tidak berkesan dalam hidupnya.
  • Beri kesempatan si A dan si B berunding untuk menentukan acara apa yang akan dibahas bersama dalam GAME 10 FAKTA ini.
  • Si A akan menuliskan 10 fakta yang sangat diingatnya tentang peristiwa itu, sedangkan si B tidak perlu menuliskan apa-apa.
  • Setelah si A selesai menuliskan 10 fakta yang sangat diingatnya tentang peristiwa berkesan itu, kini giliran si B menebak apa kira-kira yang ditulis oleh si A, jadi si B harus menebak apa yang kira-kira bisa diingat oleh si A dalam peristiwa yang berkesan bagi si A.
  • Si A, memberi tanda centang pada tebakan si B yang benar.
  • Setelah itu si A diminta membacakan hal-hal fakta apa yang tidak dapat/ tidak berhasil ditebak oleh si B dari keseluruhan catatannya.

Hasil dari game ini adalah: orang yang mengalami sendiri akan dengan mudah mengingat semua fakta yang terjadi pada DIRINYA SENDIRI , terutama pada PERISTIWA YANG SANGAT BERKESAN, PERISTIWA UNIK YANG TAK TERLUPAKAN yang terjadi pada DIRINYA SENDIRI, dibandingkan dengan orang yang walaupun hadir di tempat yang sama, yang menganggap peristiwa itu tidak berkesan bagi dia.

Hasil dari game ini adalah ; bagi si A yang mengalami peristiwa yang berkesan dalam hidupnya, maka semua detail peristiwa itu akan sangat termemory/ masuk dalam long term memory/ memory jangka panjang, yang tidak terlupakan bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai mati.

Namun bagi si B, walaupun dia ada di acara/ peristiwa yang sama, jika peristiwa itu bagi dia tidak berkesan, maka dia hanya akan mampu memorykan secara short term memory/ memory jangka pendek saja. Namun jika waktu terus berjalan, tentu dia akan gagal memorykan/mengingat semua fakta secara detail/ terperinci, dalam long term memory/ memory jangka panjang.

Faktor apa sebenarnya yang menentukan suatu peristiwa itu berkesan bagi si A sedangkan bagi si B tidak berkesan sama sekali, padahal mereka ada di peristiwa yang sama?

Yang menentukan adalah, apakah si A dan si B itu mengalami peristiwa itu dengan melibatkan emosinya atau tidak.

Dalam contoh tayangan Video, mengapa Bpk Supriadi gagal mememorykan hal yang sangat mudah diingat, semisal acara itu natal atau paskah…, dan mengapa pula Ibu Lidya dapat mememorykan hal –hal yang sangat detail, padahal mereka hadir di acara yang sama?

Karena pada saat itu, ibu Lidya sudah menyimpan perasaan terhadap Bpk Supriadi dan Bpk Supriadi juga sudah menyimpan perasaan pada ibu Lidya, namun jawaban ibu Lidya pada saat itu masih membuat Bpk Supri menunggu dengan harap-harap cemas. Jadi pada peristiwa Natal dimana mereka berdua terlibat, Ibu Supri yang mulai memperhatikan dengan sungguh-sungguh siapa Bpk Supri, dapat mengingat semua peristiwa berkesan dalam pelayanan perdana melayani Tuhan bersama-sama itu. Namun bagi Bpk Supri, karena dia belum merasa diterima oleh Ibu Lidya, peristiwa itu menjadi tidak terlalu berkesan baginya.

Contoh lain:

Seorang ibu yang baru saja kehilangan bayinya, sebut saja bernama Ibu Susan, karena bayinya dipanggil Tuhan pulang ke surga. Ibu Ini menyaksikan bayinya dimandikan oleh seorang petugas rumah sakit yang sudah biasa memandikan jenasah, sebut saja namanya Bapak Luki. Bagi ibu ini, maka pengalaman melihat bayinya dimandikan sebagai sebujur jenasah, tentu sangat tidak terlupakan. Detik demi detik akan teringat terus. Namun bagi seorang petugas rumah sakit yang setiap harinya sudah terbiasa memandikan jenazah, baik itu orang tua, baik itu anak-anak, maupun bayi-bayi, tidak ada yang berkesan baginya. Karena pengalaman itu sudah biasa bagi dia. Tidak ada yang istimewa.

Jika 10 tahun lagi, ibu ini kembali ke rumah sakit yang sama dan berjumpa dengan petugas yang sama, yang 10 tahun yang lalu pernah memandikan bayinya, bisa jadi Ibu ini masih ingat Bapak Luki ini, namun Bapak Luki ini belum tentu mengingat Ibu Susan. Ibu Susan bisa jadi masih ingat, jam berapa anak bayinya dimandikan, dimana dia duduk di tempat tunggu, hari itu dia pakai baju apa, siapa saja yang ada di situ saat itu, dia bisa ingat semuanya. Namun bagi Bapak Luki, dia tidak mungkin bisa mengingat secara detail semuanya itu, karena sebuah yang namanya RUTINITAS, memang sudah menjadi tugasnya memandikan mungkin sudah ratusan atau ribuan jenazah sepanjang kariernya di rumah sakit itu , selama berpuluh-puluh tahun.

Namun bisa jadi Bapak Luki masih ingat jenazah pertama yang dia mandikan, berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika dia pertama kali melakukan tugasnya, karena pengalaman pertama itu adalah pengalaman yang berkesan dan tidak terlupakan.

Jadi kesimpulannya, semua yang berbau RUTINITAS, semua yang berupa PENGULANGAN YANG MENJEMUKAN, akan menjadikan suatu peristiwa  yang sama TIDAK BERKESAN LAGI.

 

BAGAIMANA MENCIPTAKAN SESUATU YANG SANGAT BERKESAN?

SEHINGGA MENJADI SESUATU YANG TIDAK MUNGKIN DAPAT TERLUPAKAN?

SEHINGGA MENJADI UNFORGETABLE MOMENT?

  1. Pikirkan cara memakai metode apa dan harus bagaimana agar anak-anak mengalaminya sebagai pengalaman yang tak terlupakan, karena sangat berkesan. Caranya..? Libatkan emosi siswa dalam proses belajar mengajar. Pilih penggunaan metode yang dapat melibatkan emosi siswa.

Emosi siswa yang harus dilibatkan dalam penggunaan metode mengajar; bisa dicontohkan dengan melibatkan;

  1. emosi senang ,
  2. penasaran/ rasa ingin tahu siswa dibangkitkan,
  3. bahkan rasa menegangkan ( misalnya pada lomba/game) pun dapat dipakai

Jadi semua keterlibatan emosi siswa, emosi dalam bentuk apa pun, dapat dipakai menjadi pintu masuk untuk sebuah metode itu menjadi SUATU PENGALAMAN BERKESAN YANG TIDAK TERLUPAKAN.

  1. Pikirkan cara yang TIDAK MENJEMUKAN, pikirkan suatu cara YANG TIDAK SERING DIPAKAI/ BELUM PERNAH DIPAKAI SEBELUMNYA/ TIDAK SERING BERULANG-ULANG MUNCUL dari minggu ke minggu, sehingga ada sesuatu yang baru, segar, pengalaman unik, pengalaman baru yang menjadikan siswa sangat TERKESAN akan pelajaran hari itu, melalui KEUNIKAN METODE MENGAJAR yang kita pakai, YANG TIDAK MEMBOSANKAN/MENJEMUKAN.

 

GAME; AKU MELIHAT SENDIRI

  • Tunjukkan gambar pada si A, dan beri waktu sebanyak 5 detik saja. Si B tidak boleh lihat gambar itu
  • Mintalah si A menjelaskan panjang lebar sebanyak 5 menit kepaada si B tentang gambar itu, dan si B tetap tidak boleh melihat langsung apa isi gambar itu
  • Kini setelah selesai, berikan pertanyaan pada si B tentang gambar itu, maka si B akan gagal menjawab beberapa pertanyaan tentang gambar itu, sedangkan si A tidak akan pernah gagal menjawab pertanyaan yang sama

Si A waktunya melihat sendiri hanya 5 detik

Sedang si B mendapat cerita sebanyak 5 menit

Perbandingannya adalah 5 : 300 atau 1: 60

(60 detik X 5 = 300 detik)

Mengapa si B bisa gagal menjawab pertanyaan? KARENA DIA TIDAK MELIHAT SENDIRI, TIDAK MENGALAMI SENDIRI, HANYA KATA ORANG- KATANYA-KATA GURU SAYA- KATANYA BELIAU, dst…

Hanya jadi pendengar, penonton, tidak menjadi PEMAIN

Guru yang tidak melibatkan siswa menjadi pemain adalah guru yang pada akhirnya akan mencetak murid ‘Katanya guru saya….’

Tetapi guru yang melibatkan siswa sebagai pemain dimana mereka mengalami sendiri, akan mencetak murid “ Iya …saya tahu sendiri kog…jadi begini caranya…begini artinya….begini akibatnya….dst…dst Karena saya mengalami sendiri kog !”

 

Nah, sekarang kita masuk ke materi GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN

 

GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN

(Pembicara menggunakan metode Diorama)

Baca bersama-sama Kejadian 2;18-25

  • Pembicara akan langsung mengajak peserta temu buku bermain DIORAMA, dengan memperbandingkan secara paradoks KELAS YANG MEMBOSANKAN VS GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN
  • Penjelasan tentang KELAS YANG MEMBOSANKAN VS GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN, berdasarkan Kejadian 2: 18-25

 

DIORAMA KELAS YANG MEMBOSANKAN ,diperankan oleh:

Guru: Tirza

Murid: Adolfina.

 

DIORAMA GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN,diperankan oleh:

Guru/ Tuhan: Supriadi ( perhatikan dalam video, terkadang Bpk Supriadi menjadi Tuhan, terkadang menjadi Adam. Tuhan/ guru dengan slempang biru)

Adam : Supriadi ( perhatikan dalam video, terkadang Bpk Supriadi menjadi Tuhan, terkadang menjadi Adam. Adam dengan kostume kuning)

Binatang di Taman Eden : Neno, Lidya, Adik Melody Harvest, Adik Syela.

Hawa; Ibu Lidya.

 

Untuk thema Game Pertama di Taman Eden ini, kita menggunakan kata GAME, maka untuk menyamakan persepsi, kita sepakati dulu bersama, jika saya d­­i bab ini hanya menyebut kata GAME saja, itu yang   saya maksudkan adalah, kata GAME itu saya pilih  untuk mewakili semua aktivitas kita di kelas dengan anak-anak, seperti misalnya: menggunting, menempel, mewarna, permainan, drama, menggambar, menari, bermain mimik muka, bermain bayangan, dll ( ribuan metode kreatif Jenius Cara Alkitab).

Mari kita simak  Kejadian 2: 18-23 sebagai landasan pembahasan kita kali ini.

Ayat 18. Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Kita nobatkan ayat ini sebagai THEMA PELAJARAN : PENTINGNYA KEBERADAAN PENOLONG YANG SEPADAN  BAGI ADAM

Ayat 19. Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

Yang aneh di sini adalah, mengapa pencapaian Thema itu tidak langsung dilanjutkan dengan penciptaan Hawa saja? (langsung ke ayat 21-22) Tuhan justru memberi Adam Game, yaitu memberi nama binatang-binatang.

Kita nobatkan ayat ini sebagai GAME yang Tuhan ciptakan bagi ADAM.

Tujuan Tuhan membawa/menggiring Adam dalam Game ini adalah …(terjawab di ayat 20)

Ayat 20. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Tujuan Tuhan membawa/menggiring Adam dalam Game ini adalah  MEMBERI KESEMPATAN ADAM UNTUK MENARIK KESIMPULAN SENDIRI/ BYSELF  BAHWA DI ANTARA BINATANG-BINATANG ITU SEMUA TIDAK ADA SATU PUN YANG DAPAT MENOLONGNYA DAN TIDAK ADA YANG SEPADAN DENGAN DIA, MELALUI METODE GAME.

Setelah Adam sampai pada titik kesimpulan yang tepat melalui metode GAME, tanpa TUHAN harus repot-repot menjelaskan dengan metode CERAMAH, barulah di ayat 21 Tuhan memberikan kesimpulan/ penutup pelajaran dengan menciptakan HAWA

Ayat 21. lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Ayat 22. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Ayat tersebut kita nobatkan sebagai KESIMPULAN OLEH TUHAN/ SEBAGAI MENTOR/JURU BISIK ( keterangan; mengenai juru bisik ini nanti akan lebih jelas, dijelaskan pada sesi 5)

Oleh karna itu respon Adam adalah tepat, saat ia terbangun dari tidurnya.

Ayat 23. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

Dari mana respon tepat itu berasal? Dari kesimpulan yang ditemukan oleh Adam sendiri saat menjalani Game yang dirancang oleh GURU AGUNG tadi, bahwa ternyata Hawa itu memang benar-benar tidak tertandingi oleh binatang manapun juga dalam hal kemampuannya untuk menolong dan kesepadanannya dengan dirinya.

Dimana letak posisi Tuhan sebagai Penonton sekaligus JURU BISIK, serta posisi Adam sebagai Aktornya? ( keterangan; mengenai juru bisik dan aktor ; ini nanti akan lebih jelas, dijelaskan pada sesi 5)

 

Ayat 19. Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk MELIHAT, BAGAIMANA IA MENAMAINYA; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

Yang Tuhan lakukan adalah melihat, menonton Adam dalam memberi nama, melihat bagaimana cara Adam yang sangat Nature Smart ini mengklasifikasikan Hewan sesuai jenisnya. Jadi Adamlah yang paling sibuk dalam kelas outdoor Taman Eden ini.  Dan tidak hanya melihat dan menonton saja, yang Tuhan lakukan adalah memberi penghargaan akan apa yang Adam lakukan, menyetujui apa yang Adam kerjakan, terbukti bahwa ayat berikutnya tidak berbunyi seperti ini “ lalu Tuhan tidak setuju apabila Adam menamai kucing itu sebagai kucing”Di sinilah letak posisi-Nya sebagai Juru bisik, yang memotifasi, mendampingi , mengarahkan sehingga Adam dapat bertindak sebagai aktor yang baik. ( keterangan; mengenai juru bisik ini nanti akan lebih jelas, dijelaskan pada sesi 5)

 

Apakah Tuhan sebagai Guru juga sibuk. Iya. Sibuk dalam mempersiapkan ‘game’nya, yaitu membentuk dulu segala binatang hutan dan segala burung di udara. Tetapi saat pelaksanaan pelajaran di jam di kelas, Tuhan hanya menonton saja.

Sama sekali tidak ada ceramah sebelum menciptakan Hawa, misalnya seperti ini “Dam-dam…kamu itu butuh penolong. Kalau kamu sendirian, itu tidak baik. Dan diantara binatang-binatang ini tidak ada satu pun yang sepadan  apalagi bisa jadi penolongmu. Kalau kamu kurang percaya teori ini, baik kita akan buktikan, dan lihat bagaimana cara Saya memberi nama pada setiap binatang ini, tolong hafalkan nama-nama mereka ya, dan pelajari ciri-ciri tiap binanang ini. Sudahlah kamu duduk manis di sini, dengarkan Aku, percaya Aku, dan Aku akan beri jalan keluar, Aku akan ciptakan Hawa buatmu”.

Tuhan sama sekali tidak menjejali Adam dengan informasi sebanyak mungkin, mengenai topik pembelajaran hari itu, dan Tuhan sama sekali tidak ‘memborong’game itu dengan cara mendemontrasikan di depan ADAM bagaimana cara mengklasifikasikan binatang sesuai jenisnya dan bagaimana cara menamainya, dan membuktikan secara ilmiah bagaimana tidak sepadannya mereka itu bagi ADAM.

PERBEDAAN ANTARA

KELAS YANG MEMBOSANKAN

DENGAN GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN

KELAS YANG MEMBOSANKAN GAME PERTAMA DI TAMAN EDEN
Setiap kelas/ proses belajar mengajar tentunya memiliki tujuan pembelajaran Setiap kelas/ proses belajar mengajar tentunya memiliki tujuan pembelajaran ( kejadian 2:18) Tujuan Tuhan; membuat Adam mengerti bahwa dia membutuhkan seorang penolong yang SEPADAN. Walaupun monyet, gajah dan kucing siap menolong dia, namun mereka itu tidak SEPADAN dengan dia.
langsung memberitahukan apa tujuan itu kepada murid-muridnya sampai mereka mengerti , dengan cara ceramah/cerita/pemaparan/dll

 

tidak langsung serta-merta memberitahukan kepada murid-nya apa yang menjadi tujuan pembelajaran.

( Kejadian 2:19)

jika hanya dengan ceramah/cerita/pemaparan , guru yakin murid dapat mengerti, buat apa susah-susah menyiapkan alat peraga?

Pada cara lama- akan banyak ditemukan guru yang malas mengadakan pra kelas/ persiapan kelas/ membuat alat peraga/ dll

 

Sebagai Guru, Tuhan mempersiapkan sebelum kelas/ pra kelas- sebuah alat-alat yang dibutuhkan dalam game di kelas nanti.

Pada cara baru- guru akan paling sibuk sebelum kelas berlangsung

( Kejadian 2:19)

kelas berlangsung; guru menjelaskan kepada murid-muridnya apa perbedaan antara binatang-binatang  ini dengan manusia.

 

kelas berlangsung: Sang Guru memberi kesempatan untuk adam bermain game – memberi nama binatang.

( Kejadian 2:19)

alat peraga dipakai oleh guru untuk menjelaskan materinya

 

Guru memakai alat peraga untuk menjadi media bagi murid-murid-Nya mengalami sendiri inti pelajaran

hari itu

( Kejadian 2:19)

guru yang paling sibuk di kelas, pada saat kelas berlangsung

 

murid yang paling sibuk di kelas, pada saat kelas berlangsung

( Kejadian 2:19)

guru banyak bicara- mendominasi-one man show

 

Sang Guru hanya melihat bagaimana murid mengalaminya-pada saat kelas berlangsung; guru justru pasif dan memberi kesempatan murid untuk aktif

( Kejadian 2:19)

guru berdiri di depan kelas- sedangkan murid duduk mendengarkan

 

 

murid berdiri di depan kelas/ presentasi- sedang Guru duduk melihat. Di sinilah Guru Agung memposisikan diri-Nya sebagai penonton dan sebagai ‘juru bisik’ yang memastikan semuanya berjalan dengan baik sesuai skenario-Nya- Roh Kudus.

( Kejadian 2:19)

 

 

 

 

guru tidak mengijinkan murid berbicara

 

Guru sama sekali tidak menginterupsi murid-murid-nya yang sedang mengemukakan pendapatnya/karyanya/hasilnya/pekerjaannya

( Kejadian 2:19)

guru yang menarik kesimpulan untuk murid-muridnya agar mereka ditekankan kembali murid yang mengalami sendiri pada akhirnya dapat menarik kesimpulan sendiri

( Kejadian 2:20)

Semua yang diajarkan MUDAH TERLUPAKAN, KARENA TIDAK BERKESAN Semua yang diajarkan TIDAK AKAN PERNAH TERLUPAKAN, sehingga pada saat itu murid-Nya dapat menarik suatu kesimpulan dan sebuah DEFINISI yang akurat, bahwa dia membutuhkan penolong ( Kej 2: 23), KARENA SANGAT BERKESAN
MENGAPA TIDAK BERKESAN? KARENA TIDAK MENGALAMI SENDIRI MENGAPA SANGAT BERKESAN? KARENA MENGALAMI SENDIRI
TERPISAHNYA

ANTARA TERMIN TEORI

DAN TERMIN PRAKTEK ( itupun jika ada praktek)

TERMIN TEORI DAN TERMIN PRAKTEK TERCAMPUR JADI SATU

DALAM SATU KESATUAN TERMIN ( pasti ada praktek)- ini disebut

METODE SIMULTAN/

KESEREMPAKAN

ANTARA TEORI DAN PRAKTEK.

JADI PADA SAAT PRAKTEK,

PADA WAKTU YANG BERSAMAAN TEORI DIMASUKKAN

 

SAMA SAMA ADA GAMENYA

TETAPI TETAP BEDA TUJUAN PEMAKAIAN GAME ITU

(Pembicara menggunakan metode demonstrasi)

Beranjak dari  semua penjelasan di atas , mungkin pertanyaan ini menari-nari di pikiran  kita ; “Apa bedanya? Kita juga sudah sering mengadakan Game/ permainan di sekolah minggu kita?”

Sangat berbeda. Game yang kita lakukan bersama anak-anak kebanyakan adalah Game yang bertujuan agar supaya anak-anak dapat menyimpulkan melalui game itu hal-hal yang sudah kita jelaskan sebelumnya.

Untuk didemonstrasikan:

Misalnya kita bercerita tentang penciptaan, setelah kita puas bercerita teori tentang penciptaan,  kita mengajak anak-anak untuk permainan mencari benda-benda yang telah diciptakan Tuhan, misalnya mencari rumput, bunga, buah, dll. Anda akan menjumpai bahwa setelah susah payah kita menjelaskan teori tentang Penciptaan, bahkan sudah dengan membawa alat peraga yang menarik, tetap saja dalam game anak-anak terbalik-balik memerinci ciptaan hari ketiga dan keempat. Terjadinya yang namanya kegagalan recalling memory ( recalling memory ; mengingat kembali teori yang pernah dipelajari)

Tetapi Game yang pertama di Taman Eden ini beda. Game yang Tuhan rancangkan adalah Game yang bertujuan agar ADAM sebagai murid, dapat menemukan sendiri inti pembelajaran melalui GAME itu. Di akhir termin, barulah Tuhan membantu menarik kesimpulan dengan cara menciptakan HAWA.  Dan berhasil !! Adam pun memberikan respon yang tepat saat ia pertama kali melihat HAWA.

 

 

 

Misalnya dengan cara kita langsung mengajak anak-anak game untuk memerinci barang-barang yang kita bawa itu (rumput, bunga dan buah)  diciptakan hari ke berapa, dengan boleh melihat Alkitab. Dari situlah mereka akhirnya menemukan sendiri jawabannya. Tugas kita hanyalah memeriksa jawaban mereka apakah sudah tepat, dan di akhir kelas kita bisa memberi evaluasi, sejauh mana mereka telah menangkap mengenai materi Penciptaan itu, apakah ada jawaban mereka yang salah. Boleh juga dengan memberi mereka beberapa pertanyaan yang harus dijawab tanpa boleh melihat Alkitab lagi. Anda akan terkejut bahwa ternyata recalling memory mereka sangat tepat sekali dengan metode SIMULTAN/ metode serempak yang kita gunakan ini, dibandingkan jika kita menggunakan cara lama, walaupun sama-sama menggunakan GAME. Hampir tak ada soal yang salah terjawab. Keberhasilan recalling memory disini dapat dijajal dan dibuktikan.

Cara Tuhan inilah yang kita nobatkan sebagai METODE SIMULTAN / metode serempak.

Kesimpulannya adalah sbb:

  • Game cara lama – game untuk mempraktekkan apa yang sudah disimpulkan oleh guru, untuk membuktikan kesimpulan guru itu betul
  • Game cara baru – game yang dipakai oleh guru untuk supaya murid dapat menarik kesimpulan melalui game itu. Untuk murid dapat menarik kesimpulan sendiri.
  • Dalam cara baru ini tugas guru tinggal mengarahkan, membimbing, dan memberi ketajaman, ketepatan, rangsangan.

Dalam Game cara lama: terbagi dua termin pemebelajaran di kelas, dimana :

  • Termin pertama: guru memaparkan teori mengenai inti pembelajaran
  • Termin kedua ; praktek/game/aktivitas, dll sebagai pendukung teori

Tetapi dalam metode serempak/ simultan hanya terdiri dari satu termin saja,

  • Termin satu-satunya: guru melihat dan menggiring bagaimana murid praktek/game/aktifitas, dll sampai sang murid menemukan sendiri inti pembelajaran, melalui game yang telah dirancang sebelumnya
  • Termin satu-satunya ini ditutup dengan kesimpulan/arahan/penggarisbawahan/penajaman dll oleh guru

]

 

Mungkin anda berpikir,  oh itu cuma dibalik saja urutannya, game ditaruh di acara awal. Pemikiran tersebut SALAH.  Karna baik di awal acara atau di akhir, tujuan GAME cara lama adalah untuk murid MENYIMPULKAN apa yang telah dipaparkan guru sebelumnya, melainkan Game  cara baru adalah untuk murid MENEMUKAN sendiri apa yang nantinya tinggal digarisbawahi oleh guru.

Dalam cara baru, game bisa ditaruh di mana saja, di awal, di akhir atau di tengah, tetapi game dalam cara lama kebanyakan ditaruh di akhir acara.

Karna metode SIMULTAN dalam Game Pertama di Taman Eden, yang memberi nama-nama binatang tetaplah ADAM dan bukannya TUHAN.

Sebagai gambaran, metode Simultan mirip sekali dengan cara orang belajar memasak. Seorang remaja putri yang sedang belajar masak, tidak memerlukan satu jam teori untuk mengerti dulu secara teori, ini merica, ini bawang putih, ini daun bawang, arah mengupasnya harus begini-begitu, cara memotongnya harus begini-begitu, dst. Melainkan sang mama sebagai guru langsung memperhadapkan remaja putri itu dengan kentang, wortel, bawang putih dan kompor. Sambil arahan  dari mama berjalan , sang remaja putri tersebut langsung praktek, dan yang memegang pisau dia sendiri, bukan sang mama.  Teori tetap diperlukan, bukan berarti teori tidak penting, tetapi disini berlaku  TEORI dan PRAKTEK  berjalan secara SEREMPAK/ SIMULTAN.

Darimana remaja putri itu tahu cara mengupas wortel? Dengan cara melakukannya sendiri. Kalau hanya melihat saja cara mama mengupas dan tidak pernah melakukannya sendiri, sampai kapan pun ia tetap tidak akan pernah bisa menguasai tehnik mengupas wortel dengan tipis dan bersih.

 

 

 

 

 

Tugas SESI 4 :

Semua peserta temu buku, dalam dan luar kota,

Bisa buka salah satu materi sekolah minggu di website www.jeniuscaraalkitab.wordpress.com, yaitu materi CHRISTMAS FASHION SHOW. Dalam materi ini ada  tulisan yang bisa anda buka di website tersebut dan juga ada link YouTubenya yang dapat anda tonton.

Mohon analisa anda, untuk materi CHRISTMAS FASHION SHOW ini, DIMANA LETAK SIMULTAN/ KESEREMPAKAN ANTARA TEORI DAN PRAKTEK-nya.

Dan hasil analisanya bisa di e-mailkan ke saya di gracesumilat@jeniuscaraalkitab.com

Untuk itu dapat saya beri pancingan sedikit.

Jika materi ini akan saya buat TIDAK SIMULTAN/ TIDAK SEREMPAK ANTARA TEORI DAN PRAKTEK/ alias DIBUAT TERPISAH TEORI DAN PRAKTEK, maka akan saya buat seperti ini:

  1. Guru memperkenalkan satu per satu pemeran dalam Christmas Fashion Show ini.
  2. Guru menceritakan tiap-tiap tokoh ( TANPA FASHION SHOW) dalam kisah Natal mulai dari:
    1. Yusuf, di mana letak INCREDIBLE- nya ( Intimacy- Creative- Discipline- Blessing)
    2. Maria, di mana letak INCREDIBLE- nya ( Intimacy- Creative- Discipline- Blessing)
    3. Gembala , di mana letak INCREDIBLE- nya ( Intimacy- Creative- Discipline- Blessing)
    4. Pemilik Penginapan, di mana letak INCREDIBLE- nya ( Intimacy- Creative- Discipline- Blessing)
    5. Orang Majus, di mana letak INCREDIBLE- nya ( Intimacy- Creative- Discipline- Blessing)
    6. Herodes, di mana letak INCREDIBLE- nya ( Intimacy- Creative- Discipline- Blessing)
  3. Setelah guru selesai menceritakan semua tokoh tersebut di mana tiap-tiap tokoh itu apakah mereka memiliki INCREDIBLE atau tidak. Kini dimulai acara Fashion Show-nya;
    1. Yusuf, berjalan di catwalk.
    2. Maria, berjalan di catwalk.
    3. Gembala , berjalan di catwalk.
    4. Pemilik Penginapan, berjalan di catwalk.
    5. Orang Majus, berjalan di catwalk.
    6. Herodes, berjalan di catwalk.
  4. Kesimpulan dan doa penutup.

 

 

LEMBAR JAWABAN:

Setelah saya mencermati materi Christmas Fashion Show di

https://jeniuscaraalkitab.com/2015/10/28/christmas-fashion-show/

serta menyaksikan dalam tayangan YouTube pelaksanaan materi tersebut, maka menurut saya materi ini menggunakan metode simultan/ metode keserempakan antara teori dan praktek, dan merupakan materi yang menyatukan antara teori dan praktek dalam satu kesatuan termin dan tidak dalam dua termin yang terpisah antara teori dan praktek, karena dalam materi ini:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

( tuliskan pendapat anda)

 

Penulis: jeniuscaraalkitab

Menjadi Alat di Tangan Tuhan untuk Mencetak Generasi Jenius bagi Kemuliaan Nama Tuhan

1 thought on “BELAJAR MENJADI PENULIS MATERI ANAK SESI 4”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s