BELAJAR MENJADI PENULIS MATERI ANAK SESI 6 DAN 7


Sesi 6

SEANDAINYA IBADAH

DI SEKOLAH MINGGU

ADALAH SEBUAH PANGGUNG DRAMA

Disusun dengan anugrah Tuhan, oleh Grace Sumilat S.MG

( Pembicara menggunakan metode SIMULASI)

Di banyak kesempatan seminar, para peserta seminar kebanyakan terjebak pada pertanyaan jebakan yang saya lontarkan. Tetapi di situlah justru dapat diraba konsep dasar yang mendasari kebanyakan pelayanan anak,  dan  ternyata konsep itu adalah konsep yang salah.

“Seandainya sekolah minggu itu adalah sebuah panggung drama , siapakah yang menjadi aktor dan aktrisnya?”.“Guru sekolah minggu.”

“Siapakah yang menjadi penontonnya?”.“Murid-murid.”

“Siapakah yang menjadi sutradaranya?”“Guru sekolah minggu.”

“Apakah yang menjadi naskahnya?”“Buku panduan”

“Apakah yang menjadi panggungnya?”“Kelas sekolah minggu”

“Siapakah yang menjadi Produsernya?”“Departemen Anak”

Dan semua jawaban tersebut ternyata adalah jawaban yang salah total.  Padahal konsep seperti itulah yang mendasari banyak pekerja anak, dan profesi guru pada umumnya.

Dan tidak hanya di bidang pelayanan anak saja,konsep ini sebenarnya mendasari semua bidang pelayanan yang ada.  Jika para pelayan Tuhan memiliki konsep yang salah dalam hal ini, maka bisa dipastikan cara melayaninya pun bisa salah. Tetapi jika para pelayan Tuhan memiliki konsep yang betul dalam hal ini, maka bisa dipastikan cara melayaninya pun akan berubah.

 

 

Penonton dalam pertunjukan panggung drama  ini sebenarnya adalah TUHAN sendiri. Tuhanlah yang seharusnya menikmati semua sembah sujud kita, termasuk ibadah dari para domba kecil yang kita gembalakan ini.  Penonton bukanlah anak-anak yang dipaksa untuk duduk manis sebagai penonton yang baik, yang menyaksikan sang guru bertindak sebagai aktor dan aktris di kelas.

 

Mazmur 22:4

Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel

Apa yang Tuhan lakukan saat bersemayam? Tentu saja Dia menikmati puji-pujian orang Israel. Dan siapakah Israel itu? Kita adalah Israel-Israel-Nya. Jadi saat kita menyembah, kita berbakti, kita datang ke rumah Tuhan, saat itulah Tuhan bertindak sebagai penonton, penikmat, dari setiap sesembahan kita.

Siapakah yang sedang Dia tonton? Jelaslah kita/umat-Nya. Kalau dalam ibadah sekolah minggu, yang sedang Dia tonton adalah anak-anak sekolah minggu, murid-murid yang Dia percayakan untuk kita didik.

Oleh karna itulah, dalam ibadah seharusnya yang menjadi aktor dan aktrisnya adalah jemaat, dan dalam ibadah anak, yang menjadi aktor dan aktrisnya adalah anak-anak sekolah minggu. Konsep ini membuat kita tersadar bahwa sebagai aktor dan aktris tentunya anak-anaklah  yang seharusnya terlihat sibuk. Hal ini berbanding terbalik dengan situasi kelas kita yang mengajukan fakta bahwa selama ini kitalah sebagai guru sekolah minggu yang paling sibuk di kelas, dan menjadikan anak-anak sebagai penonton.

Siapakah yang menjadi Sutradaranya? Seorang sutradara haruslah menguasai naskah dan dapat mengarahkan para aktor dan aktris memerankan setepat mungkin seperti yang dikehendaki oleh penulis naskah. Dan seorang sutradara haruslah yang mengerti selera penonton.

 

 

 

Sebagai Penulis Naskah, tentunya Roh Kuduslah yang paling tepat bertindak sekaligus sebagai Sutradaranya. Roh Kuduslah yang paling menguasai Naskah kita , yaitu Alkitab. Karna Dialah yang mengilhami semua penulis Alkitab dalam menuliskan Alkitab, kitab demi kitab. Karna Dialah yang paling mengerti isi naskah, maka Dialah juga yang paling pas menjadi Sutradara Agung kita.

Kesadaran penuh bahwa Roh Kudus bertindak sebagai Sutradara Agung kita, membawa kita pada keinginan untuk terus berharap pada Roh Kudus, berkonsultasi pada-Nya dan meminta terus arahan dari-Nya, melebihi dari apa yang tertulis di buku pegangan guru, bahkan Dia akan membawa kita menemukan RHEMA dari apa yang tertulis secara LOGOS.

Tanpa konsep ini, biasanya para guru enggan untuk membaca berulang-ulang teks Alkitab yang mendasari setiap materi sekolah minggu. Padahal seyogyanya Alkitab menjadi Naskah/ Skenario utama kita. Dan tanpa konsep ini, biasanya para guru enggan berkonsultasi lagi dengan Roh Kudus, setelah puas membaca hanya buku penuntun dan melakukan persiapan lainnya secara teknis.

Lalu siapakah yang bertindak sebagai Produsernya? Tentu saja TUHAN sendiri. Dia lah yang mensuplai dan menyediakan semua yang dibutuhkan oleh Departemen Anak termasuk kebutuhan kita akan yang namanya ‘kreatifitas’. Pengertian kita tentang  keberadaan Tuhan sebagai penyedia, rasa-rasanya sudah tidak diragukan lagi . Tetapi pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana mungkin Tuhan yang bertindak sebagai Penonton bisa sekaligus menjadi Produser?

Sadar atau tidak, di pertunjukan manapun, produser yang  sebenarnya adalah penonton. Sebuah pertunjukan drama tidak dapat berlangsung jika tidak ada penonton. Karna penontonlah yang membeli tiket. Uang hasil penjualan tiket itulah yang nantinya dipakai oleh ‘produser’ untuk  menggantikan uang yang terlebih dahulu sudah dia keluarkan untuk membeli kostum, membayar pemain, membayar dekorasi, dokumentasi, dll. Oleh karna itu seorang ‘produser’ harus mengetahui selera penonton, dan menyelenggarakan pertunjukan yang disukai penonton. Kalau tidak, dia akan merugi.

 

 

 

Demikian juga dengan pertunjukan di TV, semua dibiayai oleh perusahaan pengisi iklan. Tentu saja perusahaan Pengisi iklan akan memilih acara-acara yang disukai pemirsa, agar saat iklannya ditayangkan, ada  banyak orang yang menyaksikan iklan yang disajikan. Pemirsa di rumah akan membeli produk yang ditawarkan, dan hasil penjualan itu beberapa persennya akan dialokasikan untuk menayangkan iklan. Uang pemasukan dari iklan itu dipakai oleh stasiun TV untuk membayar artis, Production House, make up, kostum, gaji karyawan, kamera, dll. Jadi kesimpulannya, penonton sendirilah yang membiayai apa yang ditontonnya dengan cara membeli produk-produk yang diiklankan.

Demikian juga dengan TUHAN, Tuhan sendirilah sebagai Produser yang menyediakan segalanya, demi untuk memuaskan keinginan Penonton. Karna Dia merangkap juga sebagai penonton, tentunya Sebagai seorang Produser, Tuhan tahu sekali apa yang menjadi selera Penonton, yang adalah Diri-Nya sendiri.  Tanpa konsep ini, sebagai seorang guru sekolah minggu kita sering terjebak pada persungutan mengenai fasilitas yang ada yang menurut kita tidak memadai, padahal saya pribadi dibawa Tuhan pada sebuah pengalaman-pengalaman unik dimana untuk menghadirkan sebuah kreatifitas tidak selalu dengan barang-barang yang mahal, melainkan kita tetap bisa kreatif walau hanya dengan barang-barang sederhana bahkan barang-barang bekas sekalipun.

Walaupun itu barang bekas, kalau oleh Sutradara Agung, bisa disulap menjadi barang kreatif yang bernilai seni, dan sebagai Penonton Dia tetap dapat dipuaskan dengan hal itu, mengapa tidak?

Kita tidak dapat membatasi Tuhan sebagai Penyedia/ Produser, hanya dengan cara-cara yang mahal saja, walaupun dengan cara itu Dia juga bisa bekerja. Sebagai Produser yang luar biasa dan unik, Dia dapat menyediakan melalui banyak ‘cara’ yang tak terduga dan mempesona.  Mari bersiap untuk memasuki tantangan petualangan pencarian harta karun ‘kreatifitas’ yang masih terpendam itu.

 

 

 

Kalau posisi Penonton merangkap Produser sudah diambil oleh TUHAN, posisi Sutradara juga sudah diisi oleh Roh Kudus, dan posisi aktor dan aktris sudah diisi oleh anak-anak sekolah minggu, lalu kita sebagai guru sekolah minggu bertindak sebagai apa ya di ‘panggung drama’ ini ?

Jika Roh Kudus menjadi Sutradara Agung, Bapa Surgawi menjadi penonton sekaligus merangkap sebagai produser, lalu Tuhan Yesus sebagai apa?

Yesus sebagai NARATOR . Baca Ibrani 2:12 dan Matius 18:19-20 dimana dalam kedua ayat ini nyata bahwa Tuhan Yesus membawa panah naik, dan juga Dia membawa panah turun, karena Yesus menjadi saudara sulung kita di hadapan Bapa, Ibrani 2;12 ini terkait dengan Mazmur 22:23 ( yang adalah mazmur salib) Itulah sebabnya peran Tuhan Yesus sebagai narator yang menjadi penghubung antara pemain dengan Penonton. Umat dengan Bapa. Narator biasanya berfungsi memperkenalkan para pemain drama/ acotr dan actris pada para penonton, demikian juga oleh karya salib Kristus , kita diperdamaikan dengan Bapa. Dalam hal ini para pemain menunggu aba-aba dari Narator kapan mereka akan memasuki panggung babak demi babak. Sedangkan penonton juga menunggu aba-aba dari narator untuk kapan harus memberi tepuk tangan.

Lantas posisi kita sebagai seorang guru sekolah minggu sebagai apa ya…?? Kita adalah sebagai ‘juru bisik’. Apa yang dimaksud dengan juru bisik? Pada panggung drama jaman dahulu, belum dikenal kamera seperti sekarang, yang memungkinkan sebuah sinetron dapat di ‘cut’ and ‘action’dan sebuah rekaman dapat diedit sedemikian rupa sehingga pemirsa dengan enak dapat menikmati tayangan hasil editan yang mendekati sempurna. Pada zaman dahulu, setiap aktor dan aktris drama haruslah bermain secara life dan harus hafal ‘mati’ naskah yang ada. Untuk menghindari yang namanya HUMAN EROR, maka dibutuhkan juru bisik di samping panggung. Tugas juru bisik adalah memegang naskah dan mengikuti jalannya pementasan drama tersebut, dan jika sewaktu-waktu sang aktor atau aktris melupakan dialoge berikutnya, dia pun bertugas membisiki apa yang menjadi dialoge selanjutnya.

 

 

 

Karna panggung drama itu begitu luas dan sang aktor dan aktris harus menguasai teknik vokal yang diperlukan agar suaranya bisa terdengar sampai bangku terbelakang sekalipun tanpa menggunakan mikrophone seperti zaman sekarang ini, maka jarak kursi terdepan tidak sedekat dengan panggung seperti yang kita jumpai pada gedung-gedung pertunjukan zaman sekarang ini. Itulah sebabnya, sang ‘juru bisik’ tidak perlu kawatir suara bisikannya kedengaran  oleh penonton yang duduk di barisan terdepan.

Kalau di zaman modern sekarang ini, ‘juru bisik’ bisa saya analogikan seperti KOMENTANTOR INDONESIAN IDOL.  Dia bukan sebagai aktor dan aktrisnya, bukan sebagai panelisnya, melainkan, sebagai komentator. Tugas komentator adalah bagaimana caranya memberi komentar yang bertujuan agar di waktu-waktu selanjutnya sang aktor dan aktris yang sesungguhnya dapat memberikan penampilan yang lebih baik lagi. Sebagai komentator tentu saja mereka harus menguasai bidang olah Vokal dan sudah berkecimpung cukup berpengalaman dalam industri musik di negri ini.

Sebagai seorang Juru Bisik/ Komentator, kita bertugas memotivasi, mementori, mengarahkan, merangsang ide dan kreativitas serta motivasi, mendampingi, menggarisbawahi, meluruskan, memberi teladan, agar sang aktor/aktris yaitu anak-anak sekolah minggu, dapat menjalankan tugas mereka sebagai aktor dan aktris yang baik, sesuai dengan alur naskah yaitu ALKITAB.

Jadi yang paling sibuk nantinya dalam panggung drama ini adalah anak-anak sekolah minggu. Karna merekalah aktor dan aktrisnya, sedang kita hanya sebagai ‘juru bisik’ saja.  Sebagai juru bisik, kita tidak dapat lepas dari alur naskah,yaitu Alkitab ( Firman, yaitu Kristus sendiri)  dan tidak dapat lari dari kehendak Sutradara Agung, yaitu Roh Kudus, karna dengan cara itu kita dapat menyenangkan dan memuaskan selera Bapa sebagai Penonton yang sekaligus bertindak sebagai Produser.

Berbeda sekali dengan konsep lama yang meletakkan kita sebagai aktor dan aktrisnya sedangkan anak-anak sebagai penontonnya. Dalam paradigma lama ini, kitalah yang akhirnya paling sibuk, dan anak-anak menjadi anak yang pasif di kelas. Sedangkan anak-anak yang aktif akhirnya mendapat predikat sebagai anak ‘nakal’ yang tidak bisa duduk manis dan duduk diam mendengarkan ‘acting/pementasan’ kita.

 

 

Panggungnya adalah kehidupan sehari-hari dan bukannya kelas di sekolah minggu yang bertembok empat dinding. Anak-anak akan kita lepas ke panggung yang sebenarnya, dan sebagai juru bisik , kita berada di panggung yang sama.  Itu artinya sebagai seorang guru, kita siap dinilai, dilihat, diperiksa, diteliti, diamati oleh anak-anak didik kita, bahkan 24 jam sehari, siap jadi teladan. Dan itu artinya sebagai seorang guru, kita harus mempersiapkan anak-anak didik kita siap jadi saksi 24 jam sehari, dan tidak hanya di sekolah minggu saja mereka terlihat manis dan taat. Sama seperti Rasul Paulus berani berkata pada murid-muridnya “Ikutlah aku sama seperti aku mengikut Kristus”

SESI 6

SIAPAKAH SEBENARNYA PENONTONNYA?

JIKA SEANDAINYA IBADAH ANAK DIIBARATKAN SEBUAH PANGGUNG SANDIWARA

Jika seandainya Ibadah anak itu diibaratkan sebagai sebuah pementasan drama di sebuah panggung sandiwara,sebagian besar orang pasti menjawab seperti ini:

SUTRADARA Guru sekolah minggu
AKTOR/AKTRIS Guru sekolah minggu
PENONTON Anak sekolah minggu
PRODUSER Majelis/uang kas departemen anak
NASKAH/ SKENARIO Buku pegangan mengajar sekolah minggu
KOSTUME/DEKORASI/PROPERTY Alat peraga/gambar
PANGGUNG Kelas sekolah minggu
NARATOR Guru sekolah minggu

 

DAN INILAH JAWABAN YANG BENAR

Jika seandainya Ibadah raya itu diibaratkan sebagai sebuah pementasan drama di sebuah panggung sandiwara, maka yang menjadi……………………….-nya adalah:………………………..

SUTRADARA ROH KUDUS– karena Dia mengerti selera Penonton ( yaitu Bapa Surgawi) dan Dia paling mengerti naskah ( yaitu Alkitab) karena Dialah yang mengilhami semua penulis Alkitab
AKTOR/AKTRIS Jemaat- karena jemaatlah yang datang berbakti kepada-Nya. Dan Tuhanlah yang menikmati sembah sujud Umat-Nya. Dalam hal ini anak sekolah minggu.
PENONTON Bapa Surgawi. Bacakan MAZMUR 22:3 bersemayam artinya bertahta/duduk, menikmati puji-pujian Israel, menonton.
PRODUSER Bapa surgawi. Produser semua pertunjukan adalah penonton ( contoh; penonton bayar tiket, uangnya untuk produser membeli kostume, make-up, membayar artis dan sutradara serta kameramen, dll, jadi seorang produser tak mungkin menggelar drama yang tidak disukai penonton, karena kalau itu terjadi, pastilah tidak ada yang membeli tiket, kalau tidak ada uang masuk, drama tidak dapat terselenggara. Jadi kesimpulannya; bisa terselenggaranya pementasan itu juga bersumber dari uang tiket dari penonton, jadi penonton sebenarnya adalah produser. Contoh lain, sinetron bisa berjalan karena ada pemasang iklan yang mendanai, pemasang iklan mencari sinetron yang paling banyak diminati masyarakat pemirsa TV, supaya saat iklan terpasang, produk terbeli, saat produk terbeli, uang yang didapat dari hasil penjualan produk itulah yang untuk memasang iklan di sinetron tersebut, sehingga bisa didanai sinetron tersebut. Jadi kesimpulannya sinetron bisa jalan karena ada penonton si pembeli produk pemasang iklan) Jadi Bapa surgawi adalah penonton sekaligus produser ibadah kita/ ibadah anak.
NASKAH/ SKENARIO Alkitab. Semua kebenaran dari Alkitab yang kita anut/turuti/taati. Oleh karena itu semua materi sekolah minggu harus sesuai dengan Alkitab.
KOSTUME/DEKORASI/PROPERTY Ribuan Metode Kreatif
PANGGUNG Kehidupan sehari-hari. Jadi saat seorang pelayan mimbar/ guru sekolah minggu kehidupan kesehariannya tidak memancarkan Kristus, saat itulah mimbarnya roboh. Jemaat terganggu dengan sandungan hidup dari si pelayan/ si guru
NARATOR Yesus Kristus. Baca ayat sbb: Ibrani 2:12. Yesus dalam ayat ini membawa panah ke atas yaitu dari umat kepada Bapa, dan panah ke bawah yaitu dari Bapa kepada umat. Inilah tugas narator pada pementasan drama, yaitu sebagai perantara antara aktor/aktis dengan penonton
JURU…….. JURU BISIK, kita semua pelayan mimbar, mulai dari Guru sekolah minggu, pemusik, vocalis, singer, WL, LCD operator, Soundman, Kolektan, Usher, Penari tambourine, Dancer, Pemegang Bendera, Pendoa Syafaat, BAHKAN pengkotbah, adalah JURU BISIK.

Juru bisik pada drama kuno- ( yang pada zaman itu belum ada soundsystem, belum ada kamera yang bisa ACTION-CUT-EDIT-jadi semua harus MANUAL- semua aktor aktris harus hafal naskah mati-matian, tidak boleh lupa. Tetapi pada dasarnya tetap ada yang namanya human eror- untuk itu diperlukan Juru bisik) –bertugas memegang naskah drama itu  ( artinya secara harafiah: selalu berpatokan pada Alkitab) , dan membantu aktor/aktris bila sewaktu waktu mereka lupa naskah –maka si juru bisik akan membisikkan dari samping panggung/ di balik layar apa dialog yang harus dikatakan pada drama itu. (artinya secara harafiah; Guru Sekolah Minggu, WL, pemain musik, penari, dll- selalu mengingatkan jemaat/umat sebagai aktor/aktris bagaimana agar mereka menampilkan performance/pertunjukan mereka sebaik-baiknya untuk memuaskan hati penonton /Bapa Surgawi- dengan mengajak mereka bertepuk tangan, melompat, mengangkat tangan, melakukan Firman Tuhan, dll)

Jika konsep JURU BISIK ini kurang dipahami di dunia modern, bisa kita samakan dengan KOMENTATOR AFI/ JURI INDONESIAN IDOL. Agnes Monica, bukan sang artis /kontestan pada saat itu, dia bukan yang menyanyi di panggung, walaupun dia seorang penyanyi, namun dia hanya bertugas mengomentari si artis, harus begini harus begitu, dst, agar si artis bisa menyanyi lebih baik lagi pada kesempatan berikutnya.  Kita sebagai WL/ Guru Sekolah Minggu, sebenarnya hanya menolong jemaat agar bisa menjadi pelaku firman Tuhan, menyanyi dengan baik, sukacita, bersemangat, dll. Bukan kita artisnya, tapi umat. Kita sebagai pemusik, sebenarnya hanya menolong jemaat dapat menyanyi dengan baik, bersemangat dalam bertepuk tangan, accord jangan sampai salah, pengajaran jangan sampai menyeleweng dari kebenaran Tuhan, dll Walaupun dalam ibadah posisi kita di depan dan umat/ anak-anak di bawah, bayangkanlah ada layar yang memisahkan kita dengan umat, sehingga umat sedang ditonton Bapa dari belakang kita, sedang kita ada di belakang layar meneriaki mereka “Mari angkat tangan…mari baca ayat…mari melompat…mari melakukan firman Tuhan, dst”

 

Oleh karena itu, umat/ anak-anak harus dilibatkan sebanyak mungkin dalam ibadah, karena merekalah aktor dan aktrisnya, misalnya dilibatkan dalam menari, melompat, bertepuk tangan, membaca ayat, saling mendoakan, berdoa syafaat dengan bersuara, bersaksi, bermain drama, game, dll

 

 

 

Tugas:

Setelah mempelajari materi SEANDAINYA IBADAH SEKOLAH MINGGU ADALAH PANGGUNG SANDIWARA, maka saya :

Sebagai guru sekolah minggu ketika mengajar di kelas, akan melakukan hal ini kepada:

  1. Murid-murid sekolah minggu :………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
  2. Roh Kudus

:………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. Bapa Surgawi

:………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. Tuhan Yesus

:………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. Buku Materi Sekolah Minggu

:………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. Diri saya sendiri sebagai seorang guru

:………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. Kehidupan keseharian saya

:………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

MAKALAH SESI 7 TIDAK DIPUBLIKASIKAN.

AYAT EMAS KREATIF DAPAT ANDA PELAJARI DI LINK INI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: jeniuscaraalkitab

Menjadi Alat di Tangan Tuhan untuk Mencetak Generasi Jenius bagi Kemuliaan Nama Tuhan

One thought on “BELAJAR MENJADI PENULIS MATERI ANAK SESI 6 DAN 7”

  1. Seandainya ibadah sekolah minggu adalah sebuah panggung drama siapa aktor dan aktrisnya? Siapa penontonnya? Siapa sutradaranya? Mau tau?. Jangan lewatkan sesi ini anda akan menemukan jawabannya bukan sekedar tau tp mendapat wawasan baru..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s