ANDAIKAN IBADAH ANAK ADALAH SEBUAH PANGGUNG SANDIWARA

Tulisan ini juga berlaku bagi IBADAH DEWASA, dimana kita para pemain musik, para pengkhotbah, para kolektan, usher, singer, wl, lcd operator, soundman, dll bertugas sebagai Juru Bisik….Apa itu Juru Bisik……? Juru bisik itu adalah…..(baca tulisan berikut lebih lanjut….OKE?


ANDAIKAN IBADAH ANAK

ADALAH

SEBUAH PANGGUNG SANDIWARA……

 

Apa sajakah unsur sebuah panggung sandiwara itu?

  • Aktor dan Aktris
  • Sutradara
  • Panggung
  • Naskah / Skenario
  • Penonton
  • Produser/ Penyelenggara
  • Dekorasi/ Latar Belakang Panggung/ Layar/ Lighting / dll

Dan kalau diibaratkan ibadah anak itu adalah sebuah panggung sandiwara, …..kebanyakan dari kita akan menjabarkan sebagai berikut…

  •  Aktor dan Aktris…………nya adalah GURU SEKOLAH MINGGU
  • Sutradara……………………nya adalah GURU SEKOLAH MINGGU
  • Panggung…………………..nya adalah KELAS SEKOLAH MINGGU
  • Naskah / Skenario……….nya adalah MATERI SEKOLAH MINGGU bisa berupa BUKU BAHAN MENGAJAR, dll
  • Penonton……………………nya adalah MURID SEKOLAH MINGGU
  • Produser/ Penyelenggara……………………..nya adalah DEPARTEMENT ANAK di gereja Anda

Dan jangan terkejut, kalau jawaban itu semua adalah SALAH TOTAL !!! ow owwww……

Yang benar adalah sbb: (AYO BERSIAP MENGUBAH PARADIGMA)

  •  Aktor dan Aktris…………nya adalah saya simpan dulu jawaban dari point ini
  • Sutradara……………………nya adalah TUHAN ROH KUDUS
  • Panggung…………………..nya adalah KEHIDUPAN SEHARI HARI
  • Naskah / Skenario……….nya adalah ALKITAB
  • Penonton……………………nya adalah TUHAN SENDIRI
  • Produser/ Penyelenggara……………………..nya adalah TUHAN SENDIRI
  • Dekorasi/ Latar Belakang Panggung/ Layar/ Lighting / dll………………nya adalah ALAT PERAGA / PROPERTI

Lalu siapakah actor dan actrisnya? jawaban yang benar adalah MURID SEKOLAH MINGGU

Lalu kita guru sekolah minggu, sebagai apanya donk? Aktor bukan, Sutradara bukan…semuanya bukan….lalu sebagai apa kita ini?

Kita, guru sekolah minggu adalah sebagai JURU BISIK.

Apa itu juru bisik?

Pada pementasan drama jaman dahulu, tidak seperti pembuatan sinetron di jaman sekarang ini, dimana pemain sinetron bisa saja membuat kesalahan dan sutradara berteriak “CUT”

Saat itu adengan diulangi dan diambil take terbaik dan diedit take yang jelek hasilnya.

Jaman dahulu, orang memainkan drama langsung di panggung, dan harus hafal naskah secara luar kepala. Tentu saja hal itu tidak mudah, sebagai manusia biasa mereka tidak lepas dari HUMAN EROR

Saat itulah diperlukan juru bisik yang berdiri di belakang panggung, agar apabila si actor dan actrisnya melupakan satu atau dua teks naskah, dia bertugas membisikkan dari balik panggung, dialog selanjutnya.

Nah sekarang saya akan jelaskan satu persatu peran yang lebih lengkap

Biarkan anak-anak yang jadi akor dan aktris. Aktor dan aktris cilik ini akan kita bisikin…kita motovasi, kita arahkan, agar mereka SEAKTIF MUNGKIN, sehingga penampilan mereka, pujian mereka, ibadah mereka, antusiasme mereka mendengar Firman, bahkan game mereka itu memuaskan hati penonton , yaitu TUHAN sendiri.

Bagaimana mungkin Tuhan sebagai penonton kog bisa sekaligus menjadi Produser/ Penyelenggara?

Di mana pun pementasan drama, film, konser, sinetron, dll adalah diselenggarakan oleh penonton. Lho kog bisa begitu? Iya, karna sinetron dibiayai oleh Produser, Produser mendapat dana dari Iklan, pemasang iklan mendapat dana dari pembelian masyarakat akan produk mereka. Kesimpulannya, produser tidak akan memproduksi sinetron yang tidak disukai pasar/masyarakat. Produser drama tidak mungkin memproduksi drama yang tidak disukai penonton, kalau seandainya itu terjadi, siapa yang akan membeli tiketnya? Padahal hasil penjualan tiket itu untuk membeli kostum, make up, membayar sutradara, dlsb.

Kesimpulan….percayalah bahwa sebagai PENONTON, Tuhan sekaligus sebagai PENYEDIA/ Penyelenggara. Maka hargailah selera-Nya sebagai penonton berselera tinggi sekali. Jangan biarkan anak-anak jadi actor yang membosankan, kalau itu terjadi tugas kita sebagai juru bisik gagal membuat Penonton puas.

Mana ayat pendukungnya bahwa Tuhan itu sebagai penonton? Mazmur mengatakan bahwa Tuhan itu bertahta di atas pujian umat Israel. kitalah Israel rohani-Nya. Saat kita menyembah, saat anak-anak beribadah, saat itulah Tuhan bertahta. Dia duduk di tahta-Nya, ngapain….? Ya jelas…Dia itu menikmati sembah sujud kita, sembah sujud anak-anak-Nya.

Mengapa saya pakai kata kita? Karna hal ini tidak saja berlaku di ibadah anak, tetapi juga di ibadah dewasa.

Biarkan Tuhan sebagai penonton dipuaskan dengan pujian kita, sikap hati kita, syukur kita, dll

Lihat saja pertunjukan ludruk / lawak, jika penonton puas, mereka akan melemparkan bungkus rokok yang di dalamnya berisi uang kepada para pemain di panggung. Tetapi sebaliknya apabila pertunjukan itu menjemukan/ tidak mutu, maka penonton akan melemparkan telur busuk.

Simak saja, bahwa hukum berkat dan kutuk, itu parallel/ berjalan seiring dengan keberadaan Israel sebagai penyembah Tuhan yang benar atau sedang ‘bersundal’ pada berhala orang Het, Kanaan dan orang Feris.

Saat kita mengajar memang kita sedang menghadap anak-anak, seolah-olah kita ini seperti actor/aktris yang sedang ditonton anak-anak. Tetapi, mulai sekarang miliki cara pandang yang berbeda. Saat kita menghadap anak-anak, anggap kita sedang ada di samping layar Panggung Sandiwara sebagai Juru Bisik. Sedangkan anak-anak sebagai actor dan aktris  itu sedang menghadap Tuhan, yang duduk di belakang kita, dari ketinggian Sorga sebagai Penontonnya.

lalu siapakah Sutradaranya….? Jelas Tuhan Roh Kudus. Jangan terpancang pada buku pegangan, jangan mengandalkan kepandaian anda sendiri dalam mengajar….jangan sok tahu dengan berlagak hebat dapat menguasai suasana kelas dengan trik anda, dengan kelucuan anda mungkin, dengan kehebatan dan pengalaman anda yang segudang sebagai seorang guru. Mari andalkan Roh Kudus, sebagai Sutradara Agung. Mengapa? Karna sebagai Sutradara Agung, Dia mengetahui selera Penonton….siapa penontonnya Yesus dan Bapa. Sebagai Sutradara Dia ingin sekali mengarahkan kita sebagai juru bisik agar membisiki anak-anak sebagai actor dan actris, agar mereka memerankan adegan-adegan yang memuaskan selera Penonton Agung. Sebagai Sutradara Agung, Dia sangat mengerti isi scenario/ naskah yaitu Alkitab.

Alkitab sebagai naskah….itu jelas….!! Jangan keluar dari konteks Alkitab. Sayang sekali kita sering membaca buku penuntun sekolah minggu, langsung di cerita untuk anak, dan mengabaikan bagian Alkitab yang harus kita baca terlebih dahulu sebagai landasan. Apa perlu sampai penulis buku itu menyalin Alkitab secara lengkap satu perikop di buku yang ia karang, untuk memaksa anda membaca NASKAH YANG SESUNGGUHNYA ? Aaaah…saya rasa itu konyol. Ayo bertobat…!! Sebagai penulis materi Sekolah Minggu,…saya juga tidak mau melakukan hal konyol seperti itu…ha ha ha….jangan paksa saya ya…??!!

Dekorasi/ property dll adalah Alat Peraga yang kita pakai…tetapi ingat…alat peraga bukan melulu kertas berisi gambar, melainkan ada ribuan alat peraga/ metode yang anda dapat baca di tulisan terkait. 500 metode mengajar kreatif.

Panggungnya adalah kehidupan SEHARI -hari …? Panggung kita bukanlah kelas/ atau kalau ibadah di tepi pantai, panggungnya Pantai…. BU- KAN !!

Apa saja yang dilihat oleh anak sekolah minggu tentang hidup kita, itu adalah Panggung kita. Bagaimana cara kita berpakaian, cara kita duduk, cara kita menyembah, cara kita berpikir, cara kita mempergunakan waktu, cara kita mendidik anak..cara kita membuang sampah, cara kita berbicara , itu semua dilihat anak-anak. Anak-anak tidak saja melihat kita di dalam kelas, tetapi mereka melihat kita 24 jam sehari……(itu kalau seandainya mungkin mereka lakukan, akan mereka lakukan)

Paradigma lama kita yang salah (termasuk paradigma saya dulu juga demikian) menyebabkan kita selama ini menjadi guru sekolah minggu yang seperti ini:

  • jadi actor di kelas
  • paling sibuk dan membiarkan anak-anak pasif
  • menyutradari sendiri ibadah anak tanpa berkonsultasi pada Sutradara Agung yang sebenarnya
  • menganggap anak-anak hanya memperhatikan kita saat di kelas, dan mengabaikan KETELADANAN hidup kita sebagai panggung yang sebenarnya
  • membaca materi mengajar berulang-ulang, tetapi melupakan menggali Alkitab dan berusaha mendapatkan rhema daridalamnya yang menjadi sumber inspirasi utama, melebihi yang tertulis dalam buku/ bahan  mengajar.
  • Mengandalkan semua kebutuhan mengajar dan alat peraga/ sarana prasarana pada Komisi / Departemen Anal dan melupakan bahwa Penyedia Agung sudah menanti untuk melimpahkan anugrah-Nya pada pelayanan anak yang Dia cintai juga, lebih dari cinta yang kita punya.

Paradigma baru  kita saat ini akan menjadikan kita menjadi guru sekolah minggu yang seperti ini:

  • jadi juru bisik saja….bekerja dibalik layar….ayo bisikin anak-anak apa yang harus mereka lakukan sebagai actor dan actris yang baik
  • Cuma mementoring saja, membimbing, mengarahkan dan biarkan mereka menemukan sendiri melalui metode SIMULTAN / SEREMPAK ( bagi yang belum mengerti hal ini, baca tulisan terkait, di topic KURIKULUMA)
  • selalu menggali ide-ide dari Roh Kudus
  • menjadi guru TELADAN sebagai panggung yang sebenarnya
  • membaca bagian Alkitab yang diceritakan berulang-ulang, dan berusaha mendapatkan rhema daridalamnya yang menjadi sumber inspirasi utama, melebihi yang tertulis dalam buku/ bahan  mengajar.
  • Mengandalkan semua kebutuhan mengajar dan alat peraga/ sarana prasarana pada Tuhan sebagai Allah Penyedia.

Selamat…..Anda kini telah memiliki cara pandang yang baru terhadap Ibadah Anak…diibaratkan seperti Panggung Sandirwara.

Roh Kudus memampukan anda mengerti tulisan ini. amin.

Baca tulisan terkait:

zwani.com myspace graphic comments

Penulis: jeniuscaraalkitab

Menjadi Alat di Tangan Tuhan untuk Mencetak Generasi Jenius bagi Kemuliaan Nama Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s