Mulai bulan Pebruari 2014 ini, saya melayani Tuhan di Kamis Ceria, GBI Filadelfia KENDARI, atas seijin gembala saya (GMS Kendari- Bpk Pdt Bobby Turambi). Di gereja GMS saya juga turut mengajar sekolah minggu dan belajar banyak hal melalui Eagle Kids-nya, saya banyak menimba ilmu untuk menambah kapasitas saya lebih lanjut.
Mulai bulan Pebruari 2014 ini, saya melayani Tuhan di Kamis Ceria, GBI Filadelfia KENDARI, atas seijin gembala saya (GMS Kendari- Bpk Pdt Bobby Turambi). Di gereja GMS saya juga turut mengajar sekolah minggu dan belajar banyak hal melalui Eagle Kids-nya, saya banyak menimba ilmu untuk menambah kapasitas saya lebih lanjut.
Foto foto ini adalah aktivitas anak-anak VICTORY KIDS, yang waktu itu berlangsung di rumah saya, tahun 2011
Mereka melukis dengan media roti, pada saat itu themanya bebas
Biarkan mereka bebas mengoleskan margarin, menambahkan ornament apa saja sesuai design mereka, biarlah kita hanya membantu menjadi asisten mereka, dan biarlah semua ide dari mereka sendiri, mau menggambar apa, misal bintang, wajah, dll, atau anda dapat memilih thema khusus.
Tahun 2014 ini saya dibawa Tuhan melayani usia remaja, oleh karna itu saya sedang mengoleksi tulisan-tulisan yang bisa cocok untuk remaja, dan nantinya akan saya tambah dengan tulisan-tulisan terbaru.
Rama Dani Syafriyar. Asperger. 10 tahun. Tantangan demi tantangan di water outbond berhasil diselesaikan, tidak dengan mudah, kadang-kadang harus dibantu. Tapi ini menunjukkan bahwa terapi okupasinya membawa hasil.
Salah satu guntingan Rama Dani Syafriyar, penyandang asperger, 11 tahun. Ini adalah logo Newline Cinema yang dibuat tanpa menggambar dulu. Kertas dan gunting, langsung crik-crik-crik … jadi
Bermula dari status seorang rekan GSM yang sangat menyentuh hati saya, saya dapat ide untuk mengumpulkan kata-kata mutiara terkait keluarga, pendidikan, dan perkembangan anak, untuk itu saya mulai menyalin status -status saya sendiri dan status status teman-teman yang memberi ijin statusnya diabadikan di web ini.
Mengingat saat ini saya belum sempat menggolong-golongkan mana yang cocok untuk guru dan mana yang cocok untuk keluarga, maka di hari lain jika ada kesempatan akan saya golong-golongkan
Terima kasih pada teman-teman yang kata-katanya telah menjadi inspirasi buat banyak orang. GBU
Di FB saya ada foto menarik yang saya minta ijin disharekan di web JCA ini, dan puji Tuhan..dapat ijin. Tak di sangka tak dinyana ternyata di balik gambar ini menyembunyikan ribuan kisah kasih yang tersingkap dalam cerita ini :
Grace Sumilat mohon cerita seputar gambar ini : oleh siapa saja, media lukisnya apa, dalam rangka apa, kisah apa, untk dekorasi kelaskah, atau untuk aktivitas setelah cerita atau apa ya..nama anak-anak yang terlibat dikasih lengkap ya..karna kalau saya masukkan web semua data harus lengkap..entar kalau enggak dikira karya saya lagi…waduuuh
AGAR DEBU BEDAK TIDAK BERHAMBURAN KE PERNAFASAN MEREKA
SEDIAKAN KARTON HITAM UNTUK ALAS
BERIKAN THEMA YANG MUDAH UNTUK USIA ANAK
( KARENA CONTOH GAMBAR DI SINI DIGAMBARKAN OLEH ORANG DEWASA)
SIAPA BILANG CERITA HARUS PAKAI GAMBAR YANG DIPENGANG?
SIAPA BILANG CERITA HARUS PAKAI MEDIA PAPAN TULIS DAN PANDANGAN MATA SELALU KE DEPAN?
BERCERITA JUGA BISA PAKAI MEDIA SEDOTAN WARNA WARNI DAN MURAH MERIAH
MEDIA BISA SANGAT LEBAR DI TENGAH RUANGAN
ANAK ANAK TERPANA DAN CERITA ALKITAB BEGITU MELEKAT DI HATI MEREKA
YUNUS MAU MENGAKUI KESALAHANNYA
Bacaan Guru
Yunus pasal 1
Pusat Kebenaran
Biasanya kisah Yunus diangkat dengan pusat kebenaran; ketidaktaatan Yunus, namun kali ini kita akan mengemukakan sisi yang jarang dibahas, yaitu bagaimana Yunus dengan jujur mengakui kesalahannya kepada orang-orang di kapal itu. Yunus tidak menyalahkan cuaca, menyalahkan jadwal keberangkatan kapal, ketidaktelitian nahkoda, muatan kapal yang terlalu berat, dll. Terkadang adik bayi/anak balita belum bisa mengerti apa yang dimaksud dengan mengakui kesalahan, tetapi hal ini bisa diterapkan saat mereka tidak sengaja menumpahkan air, menumpahkan makanan, memecahkan piring, merusakkan mainan, hal-hal tersebut bisa saja terjadi karna mereka belum mengerti sifat benda yang bisa tumpah, bisa pecah atau rusak. Walaupun mereka belum mengerti hal tersebut, mereka tetap dilatih untuk mengakui kesalahan/kekeliruan/ketidaksengajaan yang merugikan orang lain.